Cortara - Indonesia Online News Logo Small

21 Jam Perundingan Gagal, AS Kini Ancang-ancang Blokade Selat Hormuz

CORTARA.id – Setelah Iran memblokade Selat Hormuz lebih dulu selama berminggu-minggu di tengah perang dengan Amerika Serikat dan Israel, kini giliran Washington yang mengancam akan melakukan hal serupa. Langkah ini menyusul kegagalan perundingan damai selama 21 jam di Pakistan yang berakhir tanpa kesepakatan.

Sejak kampanye pengeboman AS dan Israel terhadap Iran dimulai lebih dari enam pekan lalu, Teheran secara efektif telah menutup jalur perairan strategis tersebut. Iran hanya mengizinkan kapal negara sahabat untuk melintas, sementara kapal dari negara agresor dan pendukungnya dilarang. Parlemen Iran bahkan mengajukan RUU untuk memberlakukan biaya transit dalam mata uang nasional, dengan larangan eksplisit bagi kapal AS dan Israel.

Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak global melintasi Selat Hormuz setiap hari. Blokade Iran memicu gangguan global, mendongkrak biaya pengiriman dan harga minyak dunia. Tujuan Iran jelas: menggunakan blokade sebagai alat tawar saat negaranya digempur habis-habisan oleh AS dan Israel.

Setelah harga minyak melonjak, AS dan Iran tiba-tiba menyetujui gencatan senjata dua minggu dan menggelar perundingan damai di Pakistan. Namun, perundingan gagal. Baik AS maupun Iran saling tuding soal kegagalan tersebut.

Merespons kegagalan itu, Presiden AS melalui platform Truth Social mengeluarkan ancaman tegas: “Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap dan seluruh Kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz,” demikian pernyataan Trump dilansir AFP.

Ia juga memperingatkan, “Setiap orang Iran yang menembak ke arah kami, atau ke arah kapal-kapal damai, akan diledakkan sampai hancur (blown to hell)!” Trump juga menyebut AS memblokade Selat Hormuz untuk membersihkannya dari ranjau dan membukanya untuk semua pelayaran, tetapi Iran tidak boleh diizinkan mengambil keuntungan dari mengendalikan perairan tersebut.

Komando Pusat AS menyatakan bahwa blokade akan berlaku adil terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman, mulai Senin (13/4) pukul 14.00 GMT. Militer AS mengumumkan bahwa dua kapal perangnya telah melintasi selat tersebut pada awal operasi pembersihan ranjau.

Sementara itu, Iran tidak tinggal diam. Komando angkatan laut Garda Revolusi menegaskan bahwa “Seluruh lalu lintas… berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata,” serta memperingatkan “Musuh akan terjebak dalam pusaran mematikan di Selat jika mereka melakukan langkah yang salah.”

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi dalam perundingan yang gagal itu, menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada ancaman AS.

“Jika mereka melawan, kami akan melawan, dan jika mereka mengajukan argumen logis, kami akan menghadapinya dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun, biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi sehingga kami dapat memberikan mereka pelajaran yang lebih besar,” ujarnya usai kembali ke Teheran dari Islamabad.

(Sumber – Detik)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *