JAKARTA – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyiapkan investasi baru senilai Rp5 triliun pada 2026 untuk memperkuat kapasitas produksi sekaligus mendorong penyerapan tenaga kerja di industri keramik nasional.
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menyampaikan, rencana investasi tersebut diharapkan mampu mengerek tingkat utilisasi produksi hingga 80% pada 2026—level tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (13/01/2026).
Sejalan dengan itu, kapasitas terpasang ubin keramik nasional diproyeksikan terus bertambah. ASAKI memperkirakan kapasitas mencapai 672 juta meter persegi per tahun pada 2026, meningkat menjadi 701 juta meter persegi per tahun pada 2027, dan menembus 720 juta meter persegi per tahun pada 2029.
Edy, yang kembali terpilih memimpin ASAKI untuk periode 2026–2029, menambahkan industri juga menyiapkan ekspansi kapasitas sekitar 70 juta meter persegi per tahun. Langkah ini diproyeksikan menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja baru. “Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” ujarnya.
Menurut ASAKI, prospek pemulihan industri turut ditopang kebijakan strategis pemerintah, mulai dari penerapan bea masuk antidumping dan safeguard keramik, pemberlakuan SNI wajib, program pembangunan 3 juta rumah, insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sektor properti, penurunan suku bunga perbankan, hingga program FLPP sebanyak 350.000 unit. Rangkaian kebijakan tersebut dinilai berpotensi mendorong permintaan keramik domestik.
Meski peluang terbuka lebar, konsumsi keramik per kapita Indonesia masih relatif rendah. Pada 2029, konsumsi diperkirakan baru mencapai 2,5 meter persegi per kapita, tertinggal dari China dan Vietnam yang sekitar 4 meter persegi per kapita, serta Malaysia dan Thailand di kisaran 3–3,5 meter persegi per kapita. “Ruang ekspansi industri keramik nasional masih sangat besar,” kata Edy.
Di sisi lain, tantangan masih membayangi, terutama keterbatasan pasokan gas dan lonjakan impor. Sepanjang 2025, impor keramik dari India tercatat meningkat 55%, Vietnam naik 32%, dan Malaysia melonjak hingga 210%.
Untuk meresponsnya, ASAKI berencana bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) guna menginisiasi penyelidikan dumping terhadap India pada semester I 2025, sekaligus menelusuri dugaan transhipment produk China melalui Malaysia. Asosiasi juga mendorong percepatan kebijakan pemindahan pintu masuk impor ke luar Pulau Jawa serta menyoroti kendala pasokan bahan baku tanah liat akibat pencabutan izin tambang di Jawa Barat.
(Sumber – ANTARA)

