JAKARTA – Organisasi esports Rex Regum Qeon (RRQ) menyiapkan langkah ekspansi ke Malaysia dan Vietnam sebagai bagian dari strategi penguatan bisnis di tingkat regional dan global.
CEO RRQ Andrian Pauline menyampaikan, rencana masuk ke pasar Malaysia sudah memasuki tahap akhir, namun pengumuman resminya masih menunggu keputusan penyelenggara liga setempat. Menurutnya, mekanisme yang diterapkan di Malaysia mengusung konsep franchise league, serupa dengan kompetisi di Indonesia.
“Malaysia itu sebenarnya pengumumannya akhir bulan ini, jadi ya disuruh tunggu gitu. Jadi katanya sih diterima ya, karena itu konsepnya franchise league juga. Sama seperti di Indonesia, tapi pengumumannya benar-benar ditahan sama mereka,” kata Andrian di Jakarta, Selasa.
“Jadi saya juga gak bisa bilang, ‘oh saya sudah akan masuk ke Malaysia’ enggak boleh bilang kayak gitu juga.”
Selain Malaysia, RRQ juga menargetkan pembukaan operasi di Ho Chi Minh, Vietnam, dengan proyeksi realisasi pada pertengahan 2026. Saat ini, RRQ telah memiliki kantor operasional di Jakarta, Manila, dan Seoul, serta pernah berekspansi ke Brasil, Jepang, dan Thailand. Namun, sebagian operasi luar negeri tersebut dihentikan seiring evaluasi strategi dan tantangan pasar, termasuk penutupan kantor di Brasil pada tahun lalu.
Andrian menilai, tantangan utama ekspansi lintas negara bukan terletak pada industri esports, melainkan pada perbedaan regulasi dan ekosistem bisnis di masing-masing wilayah.
“Challenge-nya beda-beda. Soalnya setiap negara punya policy tentang industri gaming yang berbeda-beda gitu. Enggak seperti di Indonesia, ya ada beberapa yang mirip, ada beberapa yang straight,” ujarnya.
Ia mencontohkan Vietnam sebagai pasar dengan karakteristik khusus karena industri gaming berada di bawah kendali badan usaha milik negara.
“Kayak misalnya di Vietnam di mana industrinya itu dimiliki oleh BUMN. Jadi semua harus masuk ke satu pintu itu. Jadi itu pengalaman baru juga buat kita.”
Sementara di Korea Selatan, RRQ menghadapi tantangan dari sisi ketenagakerjaan dan kepatuhan regulasi yang dinilai berbeda jauh dibanding Indonesia.
“Beda banget sama di Indonesia gitu. Jadi ya harus comply sama rules yang di sana,” kata Andrian.
“Jadi lebih ke arah dari sisi compliance-nya. Di setiap negara, ketika kita mau ekspansi, tantangannya yang nomor satu itu, tentang ekosistem dunia usaha yang di sananya. Kalau esports, saya pikir sama-sama saja gitu, enggak terlalu beda.”
(Sumberi – ANTARA)

