JAKARTA — Chairman CT Corp Chairul Tanjung menilai perekonomian Indonesia berpeluang tumbuh hingga 8 persen, asalkan dibarengi perubahan mendasar dalam struktur ekonomi nasional. Optimisme itu disampaikan CT dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Selasa (10/2/2026), dengan penekanan pada pentingnya transformasi sektoral berbasis inovasi dan teknologi.
“Bisakah kita tumbuh 8 persen? Saya katakan bisa. Cuma caranya yang harus dilakukan untuk kita bisa tumbuh 8 persen,” ujar CT. Ia mengingatkan Indonesia pernah mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 8,22 persen pada 1995, namun konteks ekonomi saat ini berbeda sehingga membutuhkan pendekatan baru.
CT menyoroti struktur ekonomi Indonesia yang masih didominasi sektor pertanian dari sisi penyerapan tenaga kerja, tetapi kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) relatif rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan sektor pertanian menyerap sekitar 28 persen tenaga kerja nasional, namun hanya menyumbang 13,1 persen terhadap PDB.
Sebaliknya, sektor industri dengan serapan tenaga kerja sekitar 13,9 persen justru berkontribusi 19,1 persen terhadap PDB. Sementara sektor jasa, termasuk teknologi informasi, keuangan, dan kesehatan, menyerap sekitar 3,6 persen tenaga kerja dengan kontribusi 13,9 persen terhadap PDB.
Menurut CT, pergeseran tenaga kerja dari pertanian ke sektor industri dan jasa akan menghasilkan lonjakan nilai tambah yang signifikan. “Dari pertanian ke sektor industri ada added value 4 kali lipat. Sementara masuk lagi ke sektor jasa, itu tumbuhnya itu bisa 4 kali lipat Jadi dari pertanian ke sektor jasa Itu sekitar 7-8 kali lipat,” katanya.
Atas dasar itu, CT mendorong transformasi ekonomi dari sektor berbasis sumber daya alam menuju industri, ekonomi berbasis pengetahuan, hingga ekonomi berbasis sains. “Untuk ini kita perlu melakukan namanya transformasi, Itu dengan bantuan inovasi dan teknologi berkembang dari sektor pertanian menuju industri, menuju knowledge based economy, Dan menuju science based of economy,” tegasnya.
Chairul menambahkan, perubahan struktur ekonomi tidak terelakkan di tengah dinamika global dan perubahan demografi. Ia menekankan dunia usaha dan pembuat kebijakan perlu beradaptasi agar Indonesia tetap kompetitif. “Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Oleh karenanya siapa yang tidak berubah dia akan dimakan oleh zamannya,” pungkasnya.
(Sumber – CNN)

