JAKARTA — Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria memastikan proses penggabungan Pelita Air ke dalam Garuda Indonesia akan rampung pada kuartal I 2026. Langkah ini menjadi bagian dari konsolidasi industri maskapai di bawah ekosistem yang sama.
“(Penggabungan) Garuda di kuartal I,” ujar Dony usai acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan integrasi Pelita Air—yang saat ini merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero)—dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) dilakukan secara hati-hati dengan memisahkan persoalan operasional dari desain bisnis jangka panjang. “Makanya kan saya selalu bilang kan, kita harus pisahkan antara problem dengan konsep, setiap bisnis itu dia harus menyatu di dalam satu ekosistem airlines kita kan,” ungkapnya.
Dony menegaskan transformasi di tubuh Garuda Grup akan terus dimonitor oleh Danantara sebagai pemegang saham utama. “Pasti kita harus monitor juga proses transformasi daripada Garuda Indonesia, ini nantinya lebih bagus,” katanya.
Di luar sektor aviasi, Danantara juga menargetkan konsolidasi besar-besaran BUMN dengan memangkas jumlah anak dan cucu usaha dari 1.043 entitas menjadi sekitar 300 entitas tahun ini. Konsolidasi dilakukan berbasis sektor guna memudahkan pengawasan dan meningkatkan efisiensi.
“Tapi kalau 300 kita sudah proses mapping itu jauh lebih mudah. Toh dari 300 kalau kita bagi by sector kita hanya masuk 16 saja,” ujarnya.
Menurut Dony, langkah tersebut berpotensi menambah bottom line BUMN hingga Rp50 triliun per tahun. Efisiensi transaksi antar-entitas disebut bisa menghemat sekitar Rp30 triliun, sementara penutupan anak usaha merugi diperkirakan menambah Rp20 triliun. “Jadi konsolidasi dengan menutup anak cucu BUMN itu, kita dapat tambahan Rp 50 triliun,” katanya.
(Sumber – CNBC)

