Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Anggaran MBG Rp335 Triliun Diproyeksikan Serap Hingga 3 Juta Tenaga Kerja

JAKARTA — Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp335 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan berdampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa program MBG diperkirakan dapat menyerap sekitar 3 juta tenaga kerja. Perhitungan tersebut mengacu pada asumsi umum bahwa setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen setara dengan penyerapan sekitar 400 ribu tenaga kerja.

“Dan ini untuk MBG ini diperkirakan akan mempekerjakan 3 juta orang. Dan rule of thumb 1 persen pertumbuhan ekonomi itu 400 ribu orang,” ujar Airlangga dalam Food and Security Summit di Menara Kadin Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Dari sisi fiskal, belanja MBG dinilai berpotensi menjadi stimulus ekonomi berskala besar karena aliran anggarannya tersebar langsung ke berbagai sektor. Airlangga menyebut nilai belanja per kuartal dari program ini bisa mencapai hampir Rp80 triliun.

“Bayangkan dari Rp335 triliun ini per kuartalnya bisa hampir Rp80 triliun. Nah, stimulus yang dilontorkan pemerintah di tahun lalu itu yang di kuartal pertama mendekati sekitar Rp37 triliun,” katanya.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen dalam APBN. Namun, menurut Airlangga, program berbasis konsumsi dan pangan seperti MBG membuka ruang bagi pertumbuhan yang lebih tinggi.

“Walaupun di APBN 5,4, tetapi internally kita mau dorong ke 6 persen. Lima koma delapan sampai 6 persen,” ucapnya.

Selain MBG, pemerintah juga menyiapkan anggaran Rp164,4 triliun untuk ketahanan pangan serta Rp181,8 triliun guna mendukung UMKM, terutama di wilayah perdesaan. Anggaran tersebut dikaitkan dengan rencana pembentukan sekitar 80 ribu koperasi Merah Putih.

Airlangga menekankan bahwa penguatan sektor pangan menjadi prioritas strategis, terutama setelah munculnya risiko krisis global dan pembatasan ekspor pangan di sejumlah negara. Dengan populasi sekitar 282 juta jiwa, ketahanan pangan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional.

“Ini pelajaran berharga bahwa kita harus mandiri secara pangan agar dalam situasi krisis ataupun situasi apa pun kita bisa bertahan dan kita punya resiliensi terhadap pangan kita,” ujarnya.

Ia juga mencatat produksi beras nasional tahun lalu mencapai 34,71 juta ton, meningkat sekitar 3,52 juta ton. Di tengah inflasi pangan yang berada di kisaran 6,21 persen, nilai tukar petani justru tercatat berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

(Sumber – Republika)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *