JAKARTA – Tekanan jual kembali mendominasi pasar saham Indonesia pada awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 5,31 persen atau turun 442,45 poin ke level 7.887,16 pada akhir sesi I perdagangan Senin (2/2/2026).
Data perdagangan menunjukkan tekanan yang merata di pasar, dengan 750 saham melemah, 140 stagnan, dan hanya 68 saham menguat. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp18,9 triliun, melibatkan 33,66 miliar saham dalam 2,04 juta transaksi. Seiring pelemahan tersebut, kapitalisasi pasar turun menjadi Rp14.177 triliun.
Mengacu data Refinitiv, seluruh sektor bergerak di zona merah. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor bahan baku, disusul konsumer non-primer, properti, dan energi.
Tekanan signifikan datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu. Barito Pacific (BRPT), Barito Renewables Energy (BREN), dan Chandra Asri Pacific (TPIA) tercatat masuk dalam jajaran saham pemberat utama IHSG, dengan total kontribusi negatif mencapai -45,48 poin indeks. Namun, beban terbesar indeks pada sesi I berasal dari Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang menyumbang penurunan -52,76 poin, diikuti Amman Mineral International (AMMN) sebesar -30,78 poin.
Di sisi lain, sejumlah saham grup Bakrie tertekan hingga menyentuh auto reject bawah (ARB), antara lain Bumi Resources (BUMI), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Darma Henwa (DEWA). Saham BRMS tercatat membebani IHSG sebesar -19,34 poin indeks.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik diperkirakan masih berlanjut pada pekan pertama Februari 2026. Volatilitas dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari kembali terjadinya partial shutdown pemerintah Amerika Serikat hingga dinamika internal pasar keuangan nasional, yang membuat pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah tetap rentan terhadap sentimen jangka pendek.
Pelaku pasar juga menanti hasil pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang digelar Senin sore (2/2/2026). Pertemuan tersebut dinilai krusial dalam upaya memulihkan kredibilitas pasar saham Indonesia.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menilai tekanan yang terjadi mencerminkan persoalan kepercayaan yang lebih luas di pasar modal. “Ini bukan sekadar persoalan satu atau dua saham, dan bukan semata urusan bursa atau indeks global, melainkan menyangkut kepercayaan terhadap sistem pasar modal nasional dan kredibilitas negara,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/2/2026).
Ia menegaskan, dorongan reformasi pasar modal yang disuarakan Danantara bukan dilandasi kepentingan institusi semata, melainkan kebutuhan pasar agar ekosistem pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam, likuid, dan kredibel.
Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih berisiko melanjutkan koreksi. “Secara teknikal, kami memperkirakan kecenderungan worst case skenario ke bawah 7.000 untuk pergerakan IHSG,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, yang menilai target free float 15 persen masih sulit dicapai dalam waktu dekat. “Yah memang ancaman downgrade ke frontier market oleh MSCI, serta underweight oleh Goldman Sachs masih membebani. Apakah potensi ke 7.000an, untuk saat ini sangat berpotensi,” katanya.
Sebagai catatan, peningkatan free float hingga 15 persen merupakan salah satu langkah yang tengah disiapkan otoritas sebagai respons atas masukan dari MSCI untuk menjaga daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor global.
(Sumber – CNBC)

