JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat lebih dari 1% pada awal perdagangan Rabu (25/3/2026), setelah sempat dibuka di zona merah. Indeks yang semula turun 0,31% ke level 7.084, berbalik naik 1,05% atau sekitar 75 poin ke posisi 7.181,65 dalam waktu kurang dari satu jam sejak pasar dibuka.
Penguatan IHSG ditopang mayoritas saham yang bergerak naik, dengan 448 saham menguat, 183 melemah, dan 108 stagnan. Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,06 triliun dari 12,67 miliar saham yang diperdagangkan dalam 616.042 kali transaksi. Kapitalisasi pasar juga meningkat menjadi Rp 12.709 triliun.
Saham sektor perbankan menjadi penggerak utama indeks, dengan transaksi besar terjadi pada BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI yang secara kumulatif menembus Rp 4 triliun. Selain itu, saham seperti BUMI, TLKM, ASII, dan BRMS juga mencatatkan volume perdagangan tinggi. Kenaikan saham-saham konglomerasi turut memperkuat laju IHSG.
Perdagangan hari ini menjadi yang pertama setelah libur panjang Nyepi dan Idul Fitri. Sepanjang Ramadan sebelumnya, kinerja IHSG tercatat kurang menggembirakan dan sempat menekan sebagian investor.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen penting dalam sisa pekan perdagangan yang berlangsung singkat hingga Jumat. Fokus investor tertuju pada rilis data ekonomi global, terutama dari Amerika Serikat, seperti uang beredar, consumer sentiment, harga impor dan ekspor, serta klaim pengangguran awal yang menjadi indikator kondisi pasar tenaga kerja.
Dari eksternal, pasar Asia-Pasifik dibuka menguat seiring sentimen positif global. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi negosiasi dengan Iran turut mendorong optimisme, meski pihak Teheran membantah adanya pembicaraan langsung.
Sejumlah indeks regional mencatat penguatan signifikan, antara lain S&P/ASX 200 Australia naik lebih dari 1,4%, Nikkei 225 Jepang melonjak 2,5%, Topix 2,4%, serta Kospi Korea Selatan menguat 2,5% dan Kosdaq naik 1,6%.
Di sisi lain, harga minyak mentah mengalami penurunan pada awal perdagangan Asia, dengan kontrak West Texas Intermediate turun 3,92% ke level US$88,73 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka saham AS bergerak naik, meskipun pada sesi sebelumnya indeks utama Wall Street ditutup melemah.
(Sumber – CNBC)

