Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Iran Tolak Mentah-mentah Pembatasan Pengayaan Uranium

TEHERAN – Badan energi nuklir Iran dengan tegas menolak segala upaya pembatasan terhadap program pengayaan uranium negaranya. Otoritas di Teheran menyatakan bahwa tuntutan Amerika Serikat dan Israel terkait hal tersebut “tidak akan terwujud”.

Pernyataan ini disampaikan oleh kepala badan energi nuklir Iran, Mohammad Eslami, dalam pernyataan yang dikutip kantor berita ISNA News Agency pada Kamis (9/4). Sikap keras itu muncul menjelang perundingan antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan pada akhir pekan ini.

“Klaim dan tuntutan musuh-musuh kita untuk membatasi program pengayaan Iran hanyalah keinginan yang akan terkubur,” kata Eslami.

Ia menambahkan bahwa berbagai konspirasi dan tindakan musuh, termasuk perang yang terjadi, tidak membuahkan hasil. Kini, menurutnya, mereka berusaha mencapai sesuatu melalui jalur negosiasi.

“Semua konspirasi dan tindakan musuh-musuh kita, termasuk perang brutal ini, tidak membuahkan hasil. Sekarang, mereka berupaya mencapai sesuatu melalui negosiasi,” cetus Eslami.

Isu pengayaan uranium telah menjadi sumber ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat selama lebih dari dua dekade. AS dan sekutunya menuduh Teheran berambisi mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras programnya hanya untuk tujuan sipil.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya bersikeras menyatakan “tidak akan ada pengayaan uranium” oleh Iran pasca-perang. Ia berargumen bahwa Teheran tengah membangun senjata nuklir, klaim yang tidak didukung oleh badan pengawas nuklir PBB.

Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu yang memicu perang melawan Iran terjadi ketika kedua negara sedang terlibat negosiasi mengenai program nuklir. Dalam perang selama 12 hari pada Juni 2025, Tel Aviv dan Washington membombardir fasilitas nuklir Teheran dan mengklaim telah menghancurkan kemampuan pengayaan uranium Iran.

Namun, nasib ratusan kilogram uranium yang sangat diperkaya milik Iran masih belum diketahui pasca-pengeboman. Pasokan tersebut diperkirakan terkubur di bawah reruntuhan, dengan Trump menyarankan kerja sama AS-Iran untuk “menggali dan mengeluarkan semua material nuklir yang terkubur dalam-dalam”.

Sebelum perang pecah, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen, jauh di atas batas 3,67 persen yang diizinkan dalam perjanjian nuklir tahun 2025 yang kini tidak berlaku. Angka tersebut mendekati level 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir.

Dengan sikap keras Iran yang menolak pembatasan dan klaim Barat yang terus mendesak, negosiasi yang dimediasi Pakistan akan menjadi ujian krusial. Tanpa titik temu, eskalasi konflik di kawasan tetap mengintai, terlebih dengan ketidakjelasan keberadaan uranium tingkat tinggi Iran pasca-pengeboman.

(Sumber – Detik)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *