CORTARA.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong reli harga aluminium global. Pada Rabu (4/3/2026), logam tersebut diperdagangkan di level US$3.307,65 per ton, naik 0,92% dibanding hari sebelumnya.
Kenaikan harga aluminium juga terlihat dalam tren yang lebih panjang. Dalam satu bulan terakhir, harga meningkat 8,98%, sementara secara tahunan melonjak 24,10% berdasarkan perdagangan contract for difference (CFD) yang melacak pasar acuan komoditas ini.
Lonjakan harga dipicu meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi energi dan komoditas antara Asia dan Eropa. Sekitar 150 kapal dilaporkan tertahan di kawasan tersebut, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.
Di sisi lain, aluminium acuan yang diperdagangkan di London Metal Exchange sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Kawasan Timur Tengah sendiri merupakan pemasok penting aluminium primer dunia, dengan sebagian besar produksi dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa. Gangguan logistik di wilayah tersebut dinilai langsung menekan pasar fisik.
Analisis Goldman Sachs menilai risiko utama saat ini berasal dari kemungkinan terhambatnya ekspor dan distribusi bahan baku melalui Hormuz. Jika gangguan hanya berlangsung singkat, kenaikan harga diperkirakan terbatas. Namun bila hambatan bertahan hingga satu bulan, dampaknya berpotensi memengaruhi struktur persediaan global.
Simulasi lembaga tersebut memperkirakan kehilangan produksi penuh selama satu bulan dapat menurunkan rasio persediaan aluminium global pada kuartal I-2026 dari 51 hari konsumsi menjadi 48 hari. Dalam pasar logam dasar, perubahan kecil pada rasio stok sering kali memicu lonjakan harga yang signifikan.
Kondisi ini menjadi lebih sensitif karena biaya energi masih tinggi, sementara industri peleburan aluminium sangat bergantung pada listrik. Dalam skenario tekanan ganda antara stok yang menipis dan energi mahal, harga aluminium diperkirakan berpotensi naik hingga US$3.600 per ton, sekitar US$400 di atas harga spot saat ini.
Meski demikian, proyeksi dasar Goldman Sachs untuk semester pertama 2026 berada di kisaran US$3.150 per ton. Artinya, reli harga saat ini sangat bergantung pada durasi gangguan di Selat Hormuz. Jika jalur pelayaran kembali normal, tekanan harga berpotensi mereda.
Bagi sektor industri, lonjakan harga aluminium hingga 24% dalam setahun menjadi peringatan serius. Industri otomotif, konstruksi, serta manufaktur kemasan berpotensi menghadapi peningkatan biaya bahan baku.
(Sumber – CNBC)

