JAKARTA — Nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS diyakini berpeluang menguat dalam dua pekan ke depan. Keyakinan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, seiring prospek ekonomi domestik yang dinilai terus membaik.
“Dua minggu ini (rupiah akan menguat). Kalau nanti ekonominya membaik terus harusnya rupiah kan menguat juga hampir otomatis,” kata Purbaya saat ditemui di gedung IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). Ia menjelaskan, perbaikan ekonomi akan mendorong meningkatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia, sehingga aliran modal asing berpotensi kembali masuk.
Menurut Purbaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menunjukkan arah positif. “Kita kan kemarin mungkin (pertumbuhan ekonomi) triwulan keempat 5,45 (persen). Triwulan tahun-tahun ini mungkin kita bisa tumbuh ke arah 6 persen. Kita akan dorong ke arah sana,” ujarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah tercatat melemah hingga kisaran Rp16.800 per dolar AS. Bank Indonesia menyebutkan, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, baik domestik maupun global, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin G Hutapea menyampaikan, tekanan terhadap rupiah bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran atas independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik awal tahun. “Kondisi ini mendorong Rupiah melemah dan ditutup pada level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara year-to-date,” kata Erwin dalam keterangan resmi, Rabu (14/1/2026).
Meski demikian, Erwin menegaskan pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lain yang juga terdampak sentimen global, seperti won Korea yang melemah 2,46 persen dan peso Filipina sebesar 1,04 persen.
Ia menambahkan, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Langkah tersebut dilakukan melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
(Sumber – CNN)

