SUMATERA — Petani kelapa sawit swadaya di Sumatera berhasil meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) melalui pendampingan Program Smallholder Inclusion for Better Livelihood & Empowerment (SMILE). Sertifikasi ini menjadi kunci bagi petani kecil untuk mengakses pasar global sekaligus meningkatkan praktik keberlanjutan dan kesejahteraan ekonomi.
Program SMILE merupakan inisiatif bersama Asian Agri, Apical, dan Kao Corporation yang diluncurkan pada 2020. Program ini dirancang untuk membantu petani memenuhi standar sertifikasi internasional melalui pelatihan peningkatan produktivitas, pengelolaan lahan berkelanjutan, serta tata kelola kebun yang bertanggung jawab. Hingga 2030, SMILE menargetkan pemberdayaan 5.000 petani swadaya.
Hasil nyata mulai terlihat. Pada Konferensi Tahunan RSPO (RT2025) di Kuala Lumpur, Malaysia, 5 November 2025, empat kelompok petani yang tergabung dalam SMILE resmi menerima sertifikasi RSPO. Keempat kelompok tersebut berasal dari Sumatra Utara, Riau, dan Jambi, dengan total 1.078 petani dan luas area tersertifikasi mencapai 2.804 hektare.
Empat kelompok yang memperoleh sertifikasi yakni Perkumpulan Tani Maju Badang Sepakat, Perkumpulan Asosiasi Bentang Alam, Koperasi Produsen Perkebunan Kelapa Sawit Wahyu Agung, serta Perkumpulan Berkah Mulia Tani. Sertifikasi ini membuka peluang harga premium bagi tandan buah segar yang dihasilkan petani.
“Awalnya banyak yang meragukan program ini, tetapi ketika manfaatnya mulai terlihat, semakin banyak petani yang bergabung,” ujar Bambang Guntoro, Kepala Kelompok Petani Wahyu Agung.
Hal serupa disampaikan Kepala Kelompok Petani Perkumpulan Berkah Mulia Tani, Eka Chandra. “Kesuksesan ini adalah kemampuan untuk terus maju dan mengatasi satu kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan semangat,” katanya.
Head of Sustainability Asian Agri Ivan Novrizaldie menekankan keberhasilan SMILE ditopang oleh kemitraan jangka panjang. “Asian Agri memberikan pelatihan praktik budidaya yang baik dan membantu petani mempersiapkan diri untuk sertifikasi keberlanjutan,” ujarnya. Menurut Ivan, sosialisasi yang konsisten membuat petani memahami manfaat jangka panjang sertifikasi RSPO.
Sementara itu, Head of Sustainability Apical Tor Mooi See menyebut program ini mendorong perubahan berkelanjutan di rantai pasok. “Dengan bekerja sama erat dengan petani, kami menciptakan perubahan positif yang bertahan lama, dari lahan hingga pasar,” katanya.
Kao Corporation juga menilai kolaborasi melalui SMILE memperkuat praktik sourcing yang bertanggung jawab. “Rantai pasok yang dapat dilacak membantu kami menjaga standar produk, dan kemitraan seperti SMILE memberi keyakinan untuk terus berinovasi,” ujar Vice President Procurement Strategic Sourcing Global Kao Corporation, Terasawa Kenji.
Hingga Oktober 2025, lebih dari 4.000 petani di Sumatra Utara, Riau, dan Jambi telah mengikuti program SMILE, dengan 2.834 petani di antaranya telah mengantongi sertifikasi RSPO. Capaian ini menegaskan peran pendampingan berkelanjutan dalam memperkuat posisi petani swadaya di pasar kelapa sawit global.
(Sumber – CNN Indonesia)

