JAKARTA – PT HM Sampoerna Tbk memperluas kontribusi Indonesia dalam jaringan riset global melalui pembangunan fasilitas riset modern yang terintegrasi dengan pabrik baru perseroan. Investasi sebesar US$300 juta atau sekitar Rp4,86 triliun tersebut menjadi langkah strategis memperkuat kapasitas penelitian dan pengembangan (R&D) berbasis talenta nasional.
Presiden Direktur HM Sampoerna, Ivan Cahyadi, menyebut fasilitas itu melibatkan sekitar 200 ilmuwan Indonesia. Laboratorium tersebut juga termasuk satu dari dua fasilitas serupa yang dimiliki induk usaha, Philip Morris International (PMI), di tingkat global.
“Ini bukan hanya pabrik, kita bikin super lab lah istilahnya di dalam dunia kita, ini (diisi, red) 200 ilmuwan Indonesia,” ujar Ivan dalam diskusi bersama Gita Wirjawan pada acara Pesta Rakyat untuk Indonesia 2025 di Smesco Convention Hall, Jakarta Selatan.
Ia menegaskan, penempatan fasilitas tersebut di Indonesia mencerminkan kepercayaan terhadap kompetensi peneliti lokal. Bahkan, sejumlah ilmuwan Tanah Air kini turut berkontribusi di pusat R&D PMI di Swiss.
“Kita yang dipercaya. Termasuk orang-orang Indonesia yang hari ini ada di Swiss untuk bekerja di sana sebagai bagian dari R&D perusahaan induk kami,” katanya.
Menurut Ivan, keterlibatan 200 ilmuwan berpotensi menciptakan efek berganda bagi penguatan inovasi dan ekosistem industri. Dengan manajemen yang tepat, kontribusi tersebut diyakini memberi dampak jangka panjang.
“Karena resiliensinya orang Indonesia tuh kuat. Dan hanya butuh diberi panggung dan kesempatan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ivan menyinggung eksistensi Sampoerna yang telah mencapai 112 tahun. Ia menyebut keberlanjutan perusahaan bertumpu pada tiga fondasi utama: nilai, human capital, dan inovasi.
“Yang pertama adalah nilai yang di set up dari founder company dari awal. Yang kedua bicara human capital, karena di tangan orang yang benar, Rp1 juta bisa jadi proyek miliaran dolar. Dan yang ketiga adalah inovasi. Itu yang membuat perusahaan ini terus ada sampai sekarang,” katanya.
Filosofi ‘tiga tangan’ yang diwariskan sejak awal—meliputi inovasi produk, relasi dengan pemangku kepentingan, serta kontribusi kepada masyarakat—masih dijalankan hingga kini. Prinsip tersebut, lanjut Ivan, menjaga relevansi perusahaan di tengah perubahan industri.
“Meskipun kita sudah berusia 112 tahun, yang mungkin kadang kebayang, oh ini sudah feodal banget. Tidak. Setiap hari di Sampoerna adalah hari pertama,” ucapnya.
(Sumber – CNN)

