CORTARA.id – Setelah sebelumnya memangkas ribuan karyawan dengan alasan optimalisasi kecerdasan buatan (AI), IBM kini mengubah arah kebijakan sumber daya manusia. Raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu berencana meningkatkan perekrutan pegawai entry level secara signifikan mulai 2026.
Pada akhir 2024, perusahaan yang berdiri sejak 1911 tersebut melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap kurang dari 1 persen total karyawan. Dengan jumlah tenaga kerja sekitar 270.000 orang per akhir tahun lalu, angka tersebut setara dengan sekitar 2.700 pekerja.
Namun strategi itu tidak berlanjut dalam bentuk pembekuan rekrutmen. IBM justru akan melipatgandakan perekrutan posisi entry level di Amerika Serikat hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya. Informasi waktu pembukaan lowongan dan jumlah pasti rekrutmen belum diumumkan, tetapi perekrutan disebut mencakup berbagai divisi, sebagaimana dilaporkan Bloomberg.
Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, menjelaskan bahwa rekrutmen akan difokuskan pada posisi yang sebelumnya dinilai berpotensi tergantikan oleh AI. Menurut dia, perusahaan telah menyesuaikan ulang deskripsi pekerjaan level awal agar lebih selaras dengan kebutuhan era digital saat ini.
LaMoreaux mengakui bahwa peran entry level dua hingga tiga tahun lalu kini sebagian besar dapat diotomatisasi, khususnya tugas rutin seperti coding dasar. Karena itu, IBM mengalihkan fokus tanggung jawab ke kemampuan yang sulit digantikan mesin, seperti interaksi dengan klien dan pemahaman kebutuhan bisnis.
Di unit sumber daya manusia, staf entry level juga bertugas meninjau keluaran chatbot HR dan berkomunikasi langsung dengan manajer ketika sistem otomatis tidak memberikan respons yang akurat.
Langkah tersebut diambil di tengah kekhawatiran meluas bahwa AI akan mempersempit peluang kerja bagi lulusan baru. Sejumlah eksekutif teknologi bahkan memprediksi sebagian besar pekerjaan kantoran level awal berpotensi hilang dalam beberapa tahun mendatang. Meski demikian, ada pandangan bahwa generasi muda justru lebih adaptif terhadap teknologi baru.
IBM menilai pengurangan rekrutmen entry level memang dapat menekan biaya dalam jangka pendek. Namun kebijakan itu berisiko menimbulkan kekosongan talenta tingkat menengah di masa depan. Tanpa jalur pembinaan internal, perusahaan akan semakin bergantung pada perekrutan eksternal yang memerlukan biaya lebih besar serta waktu adaptasi lebih panjang.
Kebijakan terbaru ini mencerminkan bahwa perkembangan AI tidak sepenuhnya menghapus kebutuhan tenaga kerja manusia, melainkan menggeser kompetensi yang dibutuhkan di dalam organisasi.
(Sumber – Kompas)

