JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) resmi melepas bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity tahap pertama kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau InfraNexia. Aksi korporasi ini ditandai dengan penandatanganan akta pemisahan di The Telkom Hub, Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menyebut nilai aset InfraNexia pada tahap pertama mencapai sekitar Rp 35 triliun. Secara keseluruhan, nilai aset yang dialihkan melalui proses spin-off diperkirakan mencapai Rp 90 triliun. Pada tahap awal, pengalihan kepemilikan dilakukan sebesar 50 persen dari total aset fiber.
“Jadi saat ini kita bisa lihat aset dari InfraNexia Tahap 1 itu pemisahan 50% dari aset fiber kita dengan aset book value-nya itu sekitar Rp 35, sekian triliun. Dan pada akhirnya kita akan memperhitungkan nilai totalnya itu kurang lebih ada di angka Rp 90 triliun,” ujar Seno.
Ia menjelaskan, spin-off ini merupakan bagian dari transformasi Telkom yang telah dimulai sejak akhir 2023 melalui pendirian TIF. Langkah tersebut juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam percepatan digitalisasi nasional melalui efisiensi aset dan belanja modal (capex).
“Pemisahan aset ini juga sebagai bagian bagaimana kami memenuhi tujuan pemerintah untuk digitalisasi, dengan efisiensi dari aset, efisiensi dari capex, dan maksimalisasi termasuk monetisasi dari aset yang kami miliki,” imbuh Seno.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyatakan kehadiran InfraNexia mendukung strategi jangka menengah TLKM 30 yang menargetkan penguatan daya saing hingga 2030. “Kehadiran InfraNexia ini akan memungkinkan Telkom mempercepat implementasi Telkom 30 melalui peningkatan efisiensi operasional dan transparansi model bisnis wholesale,” ujarnya.
Melalui langkah ini, Telkom berharap dapat mempercepat pemerataan konektivitas digital serta memperkuat peran grup sebagai enabler ekosistem digital nasional.
(Sumber – Liputan6)

