JAKARTA — Upaya menanamkan kepedulian lingkungan sejak usia dini dilakukan Wilmar Group melalui program sekolah alam yang memadukan edukasi iklim, konservasi hutan, dan pembentukan karakter anak. Program ini dijalankan di kawasan High Conservation Value (HCV) sebagai ruang belajar terbuka yang mempertemukan siswa dengan realitas ekosistem secara langsung.
Inisiatif tersebut dioperasikan oleh PT Mentaya Sawit Mas dan PT Karunia Kencana Permai dengan memanfaatkan dua kawasan HCV seluas total 5.211 hektare. Kawasan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran yang mengenalkan keanekaragaman hayati, fungsi ekologis hutan, serta pentingnya menjaga keseimbangan alam di tengah tantangan krisis iklim.
Melalui jalur Eco Trail HCV, siswa diajak mengamati flora dan fauna dilindungi, memahami peran hutan bagi kehidupan, serta mengikuti kegiatan edukatif seperti penelusuran hutan dan praktik dasar bertahan di alam. Metode pembelajaran berbasis pengalaman ini memungkinkan siswa mengaitkan materi sekolah dengan kondisi nyata di lapangan.
“Inisiatif ini bertujuan agar siswa memperoleh pengalaman langsung dalam memahami alam, sehingga tumbuh kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan sejak usia dini,” ujar Manager HCV Wilmar Central Kalimantan Project, Moch Dasrial.
Program sekolah alam Wilmar telah berjalan sejak 2021 dan terus diperluas. Dalam periode 2023–2025, tercatat 1.277 siswa dari berbagai jenjang pendidikan terlibat. Sejak 2024, Wilmar juga menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah untuk memperkuat materi melalui pendampingan penyuluh konservasi.
Dalam sesi pengenalan ekosistem, siswa diperlihatkan satwa kunci seperti orangutan, buaya muara, rangkong, dan rusa sambar, serta berbagai flora endemik. Mereka juga dikenalkan pada ancaman nyata terhadap hutan, mulai dari perburuan liar hingga pembukaan lahan, beserta dampaknya bagi keberlanjutan lingkungan.
“Sesi ini menjadi pembuka wawasan, khususnya bagi siswa sekolah dasar yang baru pertama kali mengunjungi kawasan konservasi,” kata Dasrial.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penelusuran jalur konservasi sepanjang sekitar satu kilometer. Di sepanjang rute, pendamping menjelaskan fungsi pohon lokal, keberadaan burung endemik, hingga tanda-tanda aktivitas satwa liar sebagai bagian dari ekosistem hutan yang saling terhubung.
Sebagai penutup, siswa melakukan penanaman pohon sebagai bentuk praktik konservasi dan mitigasi perubahan iklim. Setiap kegiatan melibatkan sekitar 100 bibit, dengan total 2.480 pohon telah ditanam sejak program dimulai. Jenis tanaman yang ditanam antara lain balau merah (Shorea balangeran), durian, gaharu tanduk, nangka monyet, dan jambu-jambuan.
“Shorea balangeran termasuk kategori Critically Endangered menurut IUCN. Sementara tanaman lainnya berfungsi sebagai sumber pakan satwa liar di kawasan HCV,” jelas Dasrial.
Selain fokus lingkungan, program ini juga memberikan materi Environment, Health, and Safety (EHS) untuk membekali siswa dengan pemahaman keselamatan dasar, perilaku hidup sehat, serta nilai kepemimpinan dan kolaborasi.
(Sumber – Republika)

