JAKARTA — PT Pertamina (Persero) mencatat program pengelolaan sampah melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) mampu menciptakan nilai ekonomi sekitar Rp3,2 miliar bagi warga di sekitar wilayah operasionalnya.
Inisiatif ini dijalankan dengan memperkuat bank sampah, optimalisasi TPS 3R, serta pengolahan limbah organik dan anorganik agar memiliki nilai tambah dan dapat dimanfaatkan kembali secara produktif.
Secara agregat, volume sampah yang terkumpul mencapai sekitar 4,7 ribu ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,3 ribu ton berhasil diproses ulang melalui daur ulang maupun pengolahan sampah organik.
Salah satu contoh pelaksanaan program berada di Fuel Terminal Boyolali melalui TPS 3R “Resik” di Desa Butuh. Fasilitas ini mampu mengelola kurang lebih 480 ton sampah setiap tahun yang berasal dari ratusan kepala keluarga dan pelaku usaha, sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.
Di sisi lain, perusahaan juga membina sedikitnya 15 bank sampah yang mengembangkan budidaya maggot untuk mengurai limbah organik. Dari aktivitas tersebut dihasilkan produk turunan seperti kompos, eco-enzyme, serta pakan ternak yang menjadi sumber pendapatan tambahan warga.
Program serupa turut dijalankan di wilayah pesisir Sumatera Utara melalui Fuel Terminal Medan dalam skema Kampung Pesisir Berdaya. Bank Sampah Horas Bah di kawasan tersebut mampu menghimpun sekitar 10 ton sampah per tahun dan memberikan pemasukan rutin bagi masyarakat sekitar.
Pertamina menegaskan, pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan ini merupakan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan untuk menekan dampak lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi komunitas di sekitar area operasional.
(Sumber – ANTARA)

