JAKARTA — Gerakan kolaborasi nasional Indonesia Berdaya memperkuat sinergi antara lembaga zakat, filantropi, dan pemerintah dalam upaya mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Inisiatif ini melibatkan Forum Zakat (FOZ), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), serta berbagai pemangku kepentingan yang berkumpul dalam kegiatan di Jakarta International Velodrome pada Kamis (12/3/2026).
Ketua Umum Forum Zakat, Wildhan Dewayana, mengatakan Indonesia Berdaya menjadi wadah kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk menghadapi persoalan kemiskinan ekstrem secara bersama.
“Indonesia Berdaya menjadi ruang bersama yang menyatukan kekuatan pemerintah, lembaga zakat, dan filantropi untuk bergerak bersama mengatasi kemiskinan,” ujar Wildhan.
Ia menjelaskan potensi zakat nasional diperkirakan mencapai Rp327 triliun, namun realisasi penghimpunannya baru sekitar Rp44 triliun atau sekitar 13 persen. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya peluang optimalisasi zakat melalui kerja sama antara lembaga zakat, filantropi, dan pemerintah agar dampaknya lebih luas bagi masyarakat.
Melalui berbagai program dalam gerakan Indonesia Berdaya, bantuan sosial tercatat telah disalurkan dengan nilai sekitar Rp437 miliar yang menjangkau 117 titik kantong kemiskinan ekstrem dan memberikan manfaat bagi sekitar 3 juta penerima dari kelompok fakir dan miskin.
Salah satu program yang dijalankan adalah Selasar Hangat, yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk memperluas distribusi bantuan kepada masyarakat kurang mampu. Program ini dilaksanakan serentak di delapan provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Banten. Bantuan juga menjangkau wilayah terdampak bencana di kawasan Sumatera, termasuk Aceh dan Sumatera Barat.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua BAZNAS terpilih Sodik Mudjahid menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan merupakan tanggung jawab bersama dalam ajaran Islam, sehingga kolaborasi antara lembaga zakat dan pemerintah sangat penting agar pengelolaan zakat dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Rusdi Kirana, menilai keberagaman Indonesia menjadi kekuatan penting dalam membangun solidaritas sosial untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa, termasuk kemiskinan.
Adapun Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi berbasis data agar program pengentasan kemiskinan dapat berjalan lebih tepat sasaran.
“Ramadhan adalah momentum penuh keberkahan untuk memperkuat sinergi. Kita harus memastikan program zakat, infak, dan sedekah tidak berhenti di bulan Ramadhan saja, tetapi terus mendorong masyarakat agar bangkit, mandiri, dan berdaya,” ujarnya.
Melalui gerakan Indonesia Berdaya, kolaborasi antara lembaga zakat, filantropi, dan pemerintah diharapkan dapat terus diperluas sehingga mampu meningkatkan efektivitas penyaluran bantuan sekaligus mempercepat upaya pengurangan kemiskinan di berbagai daerah.
(Sumber – Republika)

