CORTARA.id — Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu tekanan besar tidak hanya pada pasar energi, tetapi juga rantai pasok pupuk global. Kondisi ini berisiko mengganggu produksi pertanian dan memperbesar ancaman terhadap ketahanan pangan dunia.
Konflik yang memanas sejak 28 Februari 2026, saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, diikuti balasan Teheran melalui drone dan rudal, telah mengganggu stabilitas kawasan. Selain menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, situasi ini turut menghambat jalur distribusi strategis, termasuk Selat Hormuz yang menjadi penghubung utama perdagangan energi dan bahan baku industri.
Gangguan di jalur tersebut berdampak langsung pada distribusi pupuk global. Hampir 38 persen pasokan pupuk berbasis nitrat dan 20 persen pupuk fosfat terdampak, sementara sekitar 46 persen suplai urea dunia berasal dari kawasan Teluk. Terhentinya ekspor urea yang mencapai 22 juta ton per tahun memperburuk tekanan pasokan global.
Data Kpler dan CRU menunjukkan krisis ini menyebabkan kontraksi sekitar 33 persen dalam rantai pasok pupuk dunia. Bahkan, sekitar setengah dari 2,1 juta ton stok urea tidak dapat dikirim akibat hambatan logistik, meningkatkan risiko gagal panen di tengah musim tanam.
Ketergantungan tinggi pada gas alam membuat pupuk nitrogen menjadi yang paling terdampak. Sekitar 80 persen biaya produksinya berasal dari energi, sehingga lonjakan harga gas langsung mendorong kenaikan biaya produksi dan memicu penghentian operasional sejumlah pabrik.
Harga pupuk pun melonjak tajam. Urea naik dari US$482,5 per ton pada 27 Februari menjadi sekitar US$720 per ton pada pertengahan Maret, sementara harga amonia di Timur Tengah meningkat sekitar 24 persen mendekati US$600 per ton.
Sejumlah negara mulai merasakan dampaknya. India kehilangan sekitar 800 ribu ton produksi urea bulanan akibat pembatasan gas, sementara impor amonia terganggu karena ketergantungan tinggi pada kawasan Teluk. China memperketat ekspor pupuk, dan Brasil terancam kekurangan hingga 30 persen kebutuhan pupuknya. Australia bahkan memperkirakan cadangan urea akan habis pada pertengahan April.
Di sisi industri, produsen besar seperti QAFCO di Qatar menghentikan operasi pabrik urea berkapasitas 5,6 juta ton per tahun. Beberapa fasilitas di Pakistan dan Bangladesh juga menghentikan produksi akibat tekanan energi.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan harga pupuk akan naik sekitar 25 persen sepanjang 2026 jika gangguan berlanjut. Sementara itu, sektor pertanian di Amerika Serikat juga menghadapi tekanan, dengan kenaikan harga bahan bakar dan input produksi yang berpotensi memicu inflasi pangan.
Situasi ini menegaskan bahwa Selat Hormuz bukan hanya jalur energi, tetapi juga elemen krusial dalam stabilitas pasokan pangan global. Gangguan berkepanjangan berpotensi memperdalam krisis dan menghambat produksi pertanian di berbagai negara.
(Sumber – Republika)

