Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Paus Leo Dikritik Trump: “Buruk dalam Kebijakan Luar Negeri”

CORTARA.id – Hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Paus Leo XIV, yang juga berasal dari Amerika Serikat, kian memanas. Trump melancarkan kritik terbuka terhadap pemimpin Gereja Katolik tersebut melalui unggahan panjang di Truth Social, menyebut Paus Leo “buruk dalam kebijakan luar negeri” dan menuduhnya “melayani kelompok kiri radikal.”

Kritik ini muncul setelah Paus Leo, dalam kebaktian doa, mendesak diakhirinya perang dan mengkritik apa yang disebutnya sebagai “khayalan kemahakuasaan” yang mendorong konflik. Meski tidak menyebut nama Trump, pesan tersebut tampaknya ditujukan kepada Presiden AS dan jajarannya yang kerap menyombongkan kekuatan militer serta membenarkan perang dari sudut pandang agama.

Menanggapi hal itu, Trump menulis, “Saya tidak ingin seorang Paus berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir.” Patut dicatat, klaim bahwa Iran memiliki atau berencana membuat senjata nuklir merupakan delusi Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu semata, sesuatu yang dikuatkan oleh temuan intelijen AS sendiri.

Trump juga menegaskan, “Leo harus bertindak bersama kami sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani kaum Radikal Kiri, dan fokus menjadi Paus Agung, bukan politisi.” Lebih jauh, ia mengklaim bahwa Paus Leo berutang posisi kepadanya. Menurut Trump, Paus yang lahir di AS itu “ditempatkan di sana oleh Gereja hanya karena dia orang Amerika, dan mereka pikir itu adalah cara terbaik untuk berurusan dengan Presiden Donald J Trump. Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan.”

Ketegangan ini bukan tanpa sejarah. Sepekan lalu, The Free Press melaporkan bahwa setelah pidato Paus Leo yang mengkritik negara-negara pemicu konflik global, Departemen Pertahanan AS mengundang Kardinal Christophe Pierre, utusan pribadi Paus untuk AS. Pertemuan tersebut disebut “belum pernah terjadi sebelumnya.” Dalam pertemuan tertutup, Wakil Menteri Pertahanan Elbridge Colby menyampaikan pesan keras: “Amerika Serikat memiliki kekuatan militer untuk melakukan apapun yang diinginkannya di dunia. Gereja Katolik sebaiknya memihak AS.”

Salah satu pejabat AS yang hadir bahkan menyinggung masa kepausan Avignon abad ke-14, saat Paus Boniface VIII diculik dan dipukuli sampai wafat setelah mengucilkan Raja Philip IV dari Prancis. Namun, juru bicara Departemen Pertahanan kemudian membantah keras karakterisasi tersebut, menyebutnya “sangat dibesar-besarkan dan menyimpang.” Ia menegaskan bahwa pertemuan itu merupakan “diskusi yang penuh hormat dan masuk akal,” serta menambahkan, “Kami sangat menghormati dan menyambut baik kelanjutan dialog dengan Tahta Suci.”

Sikap Paus Leo sendiri semakin tegas. Ia menolak undangan Trump untuk menghadiri peringatan 250 tahun AS pada 4 Juli, dan memilih mengunjungi Lampedusa, pulau kecil di Mediterania yang menjadi pintu masuk migran Afrika. Seorang pejabat Vatikan bahkan menyatakan, “Paus mungkin tidak akan pernah mengunjungi Amerika Serikat di bawah pemerintahan ini.”

Penolakan berlanjut ketika Trump mengancam akan memusnahkan seluruh peradaban Iran. Paus Leo merespons dengan menyebut ancaman tersebut “benar-benar tidak dapat diterima.” Hanya beberapa jam sebelum Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran, Paus berkata kepada wartawan di Italia, “Hari ini, seperti yang kita semua tahu, ada juga ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima.”

(Sumber – Republika)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *