JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 3,06 persen atau 225,76 poin ke level 7.152,85 pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (24/4/2026). Tekanan jual massal dari investor asing menjadi pemicu utama ambruknya indeks.
Sebanyak 670 saham tercatat turun, sementara hanya 101 saham yang naik dan 188 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp13,22 triliun dengan volume 27,14 miliar saham. Kapitalisasi pasar pun tergerus menjadi Rp12.787 triliun.
Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi terdalam terjadi pada sektor infrastruktur, konsumer, properti, dan energi. Emiten-emiten besar seperti BBCA, BBRI, AMMN, DSSA, dan TLKM menjadi pemberat utama kinerja IHSG.
Investor asing tercatat melakukan aksi jual besar-besaran hingga Rp5 triliun, sementara total pembelian hanya mencapai Rp3 triliun. Hasilnya, penjualan bersih asing tembus Rp2 triliun. Tekanan jual terkuat terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan net sell Rp1,3 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) sebesar Rp287,5 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) sebesar Rp192,4 miliar.
Selain perbankan, asing juga melepas saham PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), serta saham energi seperti PT Petrosea Tbk. (PTRO) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO).
Di sisi pembelian, saham yang paling banyak diakumulasi asing adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) sebesar Rp35,2 miliar, diikuti PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Rp33,1 miliar, dan PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL) Rp23,9 miliar.
Tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih akan berlanjut seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent kembali melesat 3 persen lebih ke US$105,07 per barel, tertinggi sejak 7 April 2026, sementara indeks dolar melonjak ke 98,77.
Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik dibuka beragam. Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu setelah pertemuan di Gedung Putih dengan pejabat AS. Presiden Donald Trump mengumumkan hal tersebut melalui unggahan di Truth Social.
Meski demikian, investor tetap berhati-hati. Harga minyak berjangka AS naik sekitar 1,23 persen menjadi US$97,03 per barel. Hampir seluruh bursa di kawasan mengalami koreksi, dengan Nikkei menjadi satu-satunya yang menguat 0,68 persen, sementara Kospi turun 0,63 persen, STI -0,65 persen, dan HSI -0,2 persen.
Di AS, saham-saham juga ditutup melemah pada Kamis akibat lonjakan harga minyak dan ketidakpastian arah perang Iran. S&P 500 turun 0,41 persen ke 7.108,40, Nasdaq turun 0,89 persen ke 24.438,50, dan Dow Jones melemah 0,36 persen ke 49.310,32.
(Sumber – CNBC)

