Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Gencatan Senjata Gaza di Ujung Tanduk, Israel Sinyalkan Siap Serang Lagi

CORTARA.id – Gencatan senjata di Jalur Gaza berada di ambang keruntuhan. Israel memberi sinyal kuat akan melanjutkan operasi militer untuk memaksa pelucutan senjata kelompok bersenjata Palestina, memicu kekhawatiran pecahnya kembali perang besar di wilayah tersebut.

Sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan pada Oktober lalu, setidaknya 828 warga Palestina telah tewas menurut catatan sumber medis setempat. Suara drone Israel yang terus berdengung dan ledakan dari penghancuran terkontrol di Khan Younis dan Deir el-Balah menjadi tanda bahwa konflik sejatinya belum pernah benar-benar berhenti.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan rapat kabinet keamanan dan memilih konsultasi terbatas, di tengah tekanan dari militer untuk melanjutkan perang. Seorang pejabat senior militer Israel menyebut putaran konflik baru hampir tak terhindarkan.

Radio Angkatan Darat Israel melaporkan pasukan telah menguasai sekitar 59 persen Jalur Gaza, melampaui batas “Garis Kuning” dalam kesepakatan gencatan senjata. Pasukan tambahan juga dipindahkan dari front lain ke Gaza dan Tepi Barat.

Anggota biro politik Hamas, Abdul Jabbar Said, menolak proposal yang didukung Amerika Serikat yang mengaitkan bantuan kemanusiaan dengan pelucutan senjata.

“Rencana ini mewajibkan pelucutan senjata penuh dalam 281 hari, dengan bantuan kemanusiaan dijadikan syarat,” ujarnya, dikutip Al Jazeera, Senin (4/5/2026).

Aliansi faksi Palestina, termasuk Hamas, Jihad Islam, dan Front Populer, menuntut implementasi penuh tahap awal gencatan senjata, termasuk masuknya 600 truk bantuan per hari yang hingga kini masih terhambat.

Analis politik Gaza, Wissam Afifa, menilai tekanan yang diberikan Israel bertujuan memisahkan isu keamanan dari solusi politik yang lebih luas.

“Perlawanan bersikeras bahwa pelucutan senjata harus terkait dengan pembentukan negara Palestina dan berakhirnya pendudukan,” kata Afifa.

Pakar urusan Israel Mamoun Abu Amer melihat ancaman perang ini sebagai manuver politik domestik Netanyahu menjelang pemilu, sekaligus alat penekan terhadap mediator. Namun di sisi lain, militer Israel juga menghadapi tekanan akibat konflik multi-front, termasuk di Lebanon selatan.

Total korban tewas sejak perang dimulai telah mencapai sedikitnya 72.608 jiwa. Dengan serangan yang masih terjadi dan ancaman eskalasi terbuka, warga Gaza kembali berada di garis terdepan dari babak baru konflik yang berpotensi jauh lebih destruktif. Sementara itu, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan masih terus berlangsung namun belum menunjukkan hasil signifikan.

(Sumber – CNBC)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *