JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah dan para pemangku kebijakan terkait untuk mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menyentuh angka Rp17.503 per dolar AS. Menurutnya, situasi ini harus terus dicermati hingga tahun 2027.
Puan menyampaikan hal tersebut usai memimpin rapat paripurna di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (13/5/2026). Ia menekankan bahwa pemerintah harus mencermati situasi global yang berdampak pada pelemahan kurs.
“Situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk,” kata Puan.
Pada masa sidang ini, DPR RI akan memasuki pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) untuk APBN tahun 2027 sebagai bagian dari antisipasi terhadap tekanan fiskal ke depan.
“Itu juga termasuk dalam mengantisipasi APBN dan fiskal yang akan datang,” kata dia.
Puan menilai pelemahan kurs tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga terkait dengan situasi global. Oleh karena itu, pemerintah termasuk Bank Indonesia diharapkan turun tangan menghadapi tekanan ini.
Nilai tukar rupiah pada Selasa siang pukul 11.47 WIB bergerak melemah 89 poin atau 0,51 persen menjadi Rp17.503 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.414.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ketegangan di Selat Hormuz yang masih memanas meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan perang telah usai.
“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump,” katanya dalam rekaman suara di Jakarta, Selasa (13/5/2026).
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan DPR mengingat dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional. Antisipasi jangka panjang hingga tahun 2027 dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan ketahanan fiskal negara.
(Sumber – Republika)

