SURABAYA – Program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) yang digadang-gadang sebagai motor penggerak ekonomi desa kini menjadi sorotan publik setelah beredar video viral di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan sejumlah armada truk berlogo koperasi desa sedang antre mengambil stok barang kebutuhan pokok di gudang milik PT Indomarco Prismatama di kawasan Surabaya, Jawa Timur.
Penampakan truk kopdes itu langsung memicu beragam reaksi dari masyarakat. Pasalnya, program yang sejak awal dipromosikan sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi desa dan memberdayakan pelaku UMKM lokal dinilai bertolak belakang dengan praktik distribusi yang terlihat dalam video tersebut.
Secara konsep, Kopdes Merah Putih disebut hadir untuk membantu pelaku usaha kecil di desa melalui akses permodalan, distribusi produk, hingga penguatan pemasaran berbasis komunitas desa. Namun viralnya video tersebut membuat sebagian publik mempertanyakan arah kebijakan koperasi.
Seorang narasumber anonim yang mengaku mengikuti perkembangan program koperasi desa menilai polemik ini muncul karena masyarakat berharap koperasi benar-benar menjadi pusat distribusi mandiri bagi produk lokal.
“Kalau koperasi desa masih bergantung penuh pada distributor besar untuk suplai barang pokok, masyarakat jadi bertanya di mana letak kemandiriannya. Publik ingin ada keberpihakan nyata kepada UMKM desa,” ujar Yuwono, warga net, saat dimintai komentarnya, Senin (18/5/2026).
Sorotan publik semakin tajam setelah muncul kekhawatiran bahwa koperasi desa nantinya hanya menjadi perpanjangan tangan distribusi perusahaan ritel modern hingga ke pelosok daerah. Di media sosial, sejumlah netizen mendesak adanya transparansi terkait skema bisnis dan rantai pasok program tersebut.
Meski demikian, ada pula pihak yang menilai pengambilan stok dari distributor besar dapat dipahami sebagai langkah sementara untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, terutama jika kapasitas produksi desa belum mampu mencukupi permintaan pasar.
“Yang menjadi persoalan bukan semata mengambil barang dari distributor besar, tetapi bagaimana roadmap pemberdayaan UMKM lokalnya dijalankan secara bertahap dan terukur,” kata narasumber lainnya, Hasan.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi terkait video viral tersebut maupun alasan armada koperasi mengambil pasokan barang dari gudang perusahaan ritel besar. Kasus ini menjadi ujian penting bagi kredibilitas program Kopdes Merah Putih di tengah harapan besar masyarakat terhadap kebangkitan ekonomi desa berbasis kemandirian dan pemberdayaan pelaku usaha lokal.
(Sumber – Suaradesa)

