Cortara - Indonesia Online News Logo Small

El Nino Diprediksi Terjadi Mei-Juli 2026, BMKG: Waspada Risiko DBD dan Malaria pada Anak

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan mulai terjadi pada periode Mei-Juni-Juli 2026. Suhu panas yang menyertainya dinilai perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko penyakit tular nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria, terutama pada anak-anak.

Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Darmawan Budi Setyanto, menjelaskan bahwa nyamuk Aedes aegypti penyebar DBD hidup di lingkungan air bersih. Saat terjadi krisis air bersih akibat kemarau panjang, masyarakat cenderung menyimpan air di ember, bak, atau wadah lain.

“Kan kalau kekeringan, susah air itu, pasti masyarakat menyimpan air di ember, drum, gitu ya. Nah itu kalau kita tidak menutup dengan baik, itu justru jadi lahan yang bagus untuk nyamuk Aedes aegypti bertelur,” kata dr Darmawan dalam webinar IDAI yang dipantau di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Kondisi ini justru menciptakan suasana ideal bagi perkembangbiakan nyamuk. Selain itu, suhu panas membuat nyamuk lebih banyak bertahan di tempat tertutup dan masuk ke dalam rumah, sehingga meningkatkan kontak dengan manusia. Telur nyamuk Aedes aegypti juga mampu bertahan dalam kondisi kering hingga berbulan-bulan.

Pada anak usia di bawah lima tahun, malaria berat berisiko menyebabkan malaria serebral dan anemia. dr Darmawan menambahkan bahwa fenomena El Nino pada 2015-2016 sempat memicu lonjakan kasus malaria di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.

Tak hanya DBD, musim kering akibat El Nino juga meningkatkan risiko malaria. Nyamuk Anopheles sebagai penyebar malaria berkembang biak di kubangan kecil yang terbentuk saat air sungai dan rawa menyusut.

“Setiap air sungai dan rawa menyusut, aliran air itu pelan-pelan terpecah-pecah jadi kubangan kecil dan ini juga habitat yang ideal untuk nyamuk Anopheles berkembang biak,” kata dr Darmawan.

Dokter spesialis anak konsultan respirologi tersebut mengungkapkan bahwa anak usia 5 hingga 14 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus DBD terbanyak. Orang tua diminta waspada jika anak mengalami demam di atas 38 derajat Celsius, nyeri di belakang mata, dan ruam pada kulit.

“Menurut data temuan kami, pada 2023 El Nino pernah menyebabkan kasus DBD meningkat hingga 40 persen di Pulau Jawa dan Bali,” kata dr Darmawan.

“Untuk itu, saya berpesan agar orang tua selalu waspada, menjaga kebersihan di rumahnya, serta pastikan tempat penampungan air tertutup rapat agar tidak menjadi sarang nyamuk,” pesan dr Darmawan.

Dengan prediksi El Nino yang akan segera terjadi, masyarakat diimbau untuk lebih aktif menjaga kebersihan lingkungan dan menutup rapat tempat penampungan air guna mencegah lonjakan kasus DBD dan malaria, khususnya pada anak-anak yang rentan terhadap kedua penyakit tersebut.

(Sumber – Republika)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *