JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menyesuaikan tarif sejumlah rute Transjabodetabek dalam waktu dekat. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan langkah ini diambil karena subsidi yang diberikan Jakarta untuk transportasi umum ke wilayah penyangga ibu kota dinilai terlalu besar.
“Untuk tarif TJ (Transjakarta) Blok M, Transjabodetabek ya, kalau itu bukan TJ, tapi Transjabodetabek, segera akan kami putuskan,” kata Pramono di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Jumat (5/6/2026).
Salah satu rute yang dipastikan akan mengalami penyesuaian adalah Transjabodetabek SH12 (Blok M – Bandara Soekarno-Hatta). Selain itu, sejumlah rute lain juga akan dievaluasi karena beban subsidi yang ditanggung Pemprov DKI dinilai sudah terlalu besar.
Meski demikian, Pramono belum dapat menentukan besaran tarif baru setelah penyesuaian. Ia menyatakan keputusan akan diambil dalam bulan-bulan ini.
Saat ini, Transjakarta mengoperasikan 18 rute Transjabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan daerah sekitarnya, dengan tarif yang berlaku sebesar Rp3.500. Berdasarkan data Transjakarta, layanan ini digunakan oleh lebih dari 2 juta penumpang pada Maret dan April 2026, dengan rute D21 (UI – Lebak Bulus) menjadi yang paling diminati.
Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya sebelumnya menyoroti besarnya subsidi Transjakarta yang mencapai sekitar Rp4,2 triliun. Ia meminta jajaran direksi Transjakarta menyusun strategi pendapatan tambahan tanpa mengurangi manfaat layanan bagi warga.
“Saya memberikan tantangan kepada Direktur Utama Transjakarta untuk menyampaikan ide atau program yang baik untuk mengurangi angka subsidi yang sampai sekarang masih besar,” tutur Dimaz.
Ia juga menekankan perlunya mengkaji opsi kenaikan tarif secara hati-hati mengingat kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya stabil. Kenaikan tarif, menurutnya, bukan keputusan final dan hanya salah satu opsi untuk mengurangi beban subsidi.
Sementara itu, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menyatakan akan memprioritaskan transformasi layanan dan operasional pada 2027 melalui digitalisasi, penguatan tata kelola perusahaan, serta optimalisasi aset fisik dan nonfisik seperti Open Top Tour of Jakarta, Jakarta Skyfan Run, dan aktivasi halte ikonik.
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Welfizon Yuza mengatakan langkah ini juga merupakan respons atas usulan Komisi C DPRD DKI agar Transjakarta mencari terobosan baru untuk menekan beban subsidi dari APBD.
Publik berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara keberlanjutan layanan transportasi publik dan daya beli masyarakat yang masih belum pulih sepenuhnya. Keputusan akhir mengenai besaran kenaikan tarif pun masih dinantikan dalam waktu dekat.
(Sumber – Republika)

