Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Kontroversi Visa dan Fasilitas Minim Mulai Bayangi Piala Dunia 2026

CORTARA.id – Masalah visa dan kontroversi di perbatasan mulai membayangi gelaran Piala Dunia 2026 yang masih dalam tahap awal. Sejumlah pemain, ofisial, dan pendukung dilaporkan mengalami penundaan visa, pemeriksaan intensif, hingga penolakan masuk saat tiba di Amerika Serikat sebagai negara tuan rumah.

Viral di media sosial sebuah unggahan yang merangkum beberapa insiden yang melibatkan tim nasional dan tokoh sepak bola dalam 48 jam terakhir. Para penggemar pun mempertanyakan kesiapan negara tuan rumah terbesar dalam turnamen ini untuk menyelenggarakan ajang yang seharusnya mengusung persatuan dan partisipasi terbuka.

Pemain Swiss, Breel Embolo, dilaporkan mengalami penundaan visa sehingga bergabung dengan tim nasionalnya lebih lambat dari jadwal. Sementara pemain Irak, Aymen Hussein, disebut ditahan untuk pemeriksaan selama hampir tujuh jam setelah tiba di AS.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah laporan mengenai delegasi Iran beredar. Disebutkan bahwa sebagian tim nasional Iran menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengurus visa di Turki dan baru diizinkan masuk pada hari pertandingan. Lima belas anggota delegasi Iran disebut juga ditolak masuk secara keseluruhan.

Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang baru dinobatkan sebagai Wasit Terbaik Afrika 2025 versi CAF, juga dikabarkan ditolak masuk meskipun membawa paspor diplomatik. Ia pun dipaksa pulang dan kehilangan kesempatan memimpin pertandingan di Piala Dunia.

Para pendukung dari Skotlandia juga dilaporkan mengalami masalah. Sebagian dari mereka disebut dicabut otorisasi perjalanan meskipun memenuhi syarat masuk bebas visa melalui sistem ESTA. Ada pula yang mengaku visa mereka ditolak meski sudah membeli tiket pertandingan dan melakukan reservasi hotel.

Selain persoalan visa, perhatian publik juga tertuju pada kesenjangan fasilitas yang diterima oleh delegasi peserta. Timnas Curacao, negara kecil dengan populasi hanya sekitar 150.000 jiwa, menjadi sorotan setelah video kedatangan mereka viral. Para pemain Curacao tiba di kamp latihan di Florida dengan menaiki bus sekolah tua tanpa jendela.

Sementara itu, Jepang, salah satu kekuatan sepak bola Asia, juga disebut-sebut menerima fasilitas yang minim selama persiapan turnamen. Perbedaan perlakuan antara tim-tim besar dan kecil ini semakin mempertajam kritik terhadap panitia penyelenggara.

Sebagian penggemar menilai perlakuan tidak adil terhadap delegasi dari Afrika, Timur Tengah, hingga Asia. Sementara yang lain berpendapat bahwa peningkatan keamanan di ajang olahraga global adalah hal yang wajar, terutama di AS.

Bagi FIFA, waktu kejadian ini sangat tidak ideal. Piala Dunia seharusnya menjadi ajang yang mempertontonkan kekuatan sepak bola dalam menyatukan bangsa. Namun, percakapan awal kini justru bergeser ke soal batas negara, visa, dan siapa yang berhak disambut di ajang olahraga terbesar dunia.

Para pihak yang terdampak berharap ada evaluasi serius terhadap prosedur keimigrasian selama turnamen. Publik sepak bola global pun menunggu tanggapan resmi dari FIFA dan otoritas AS untuk memastikan bahwa semangat persatuan Piala Dunia tidak tenggelam oleh birokrasi perbatasan dan kesenjangan perlakuan.

(Sumber – TOI)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *