JAKARTA – TikTok kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan Tokopedia sebagai bagian dari restrukturisasi pascaakuisisi. Sumber internal menyebut jumlah karyawan teknologi Tokopedia yang sebelumnya sekitar 1.100 orang kini tersisa sekitar 35 orang. Secara keseluruhan, jumlah karyawan Tokopedia juga disebut menyusut drastis dari sekitar 2.500 orang saat diakuisisi ByteDance menjadi hanya sekitar 10 persen. Mayoritas pegawai yang masih bertahan berada di divisi bisnis, trust and safety, serta sebagian kecil tim teknologi.
Seiring restrukturisasi tersebut, pengembangan dan pengelolaan teknologi Tokopedia maupun TikTok Shop disebut kini ditangani oleh tim ByteDance di China. Padahal, saat proses akuisisi sebelumnya perusahaan menyatakan akan mempertahankan dan mengembangkan talenta teknologi di Indonesia.
Menanggapi kabar tersebut, Kamis (2/7/2026), juru bicara TikTok membenarkan adanya penyesuaian organisasi. Menurut perusahaan, langkah itu dilakukan untuk menyelaraskan fungsi riset dan pengembangan (R&D) pada area yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan jangka panjang bagi bisnis, komunitas kreator, dan penjual di platform.
ByteDance resmi mengakuisisi 75,01 persen saham Tokopedia pada Januari 2024, sementara GoTo mempertahankan kepemilikan 24,99 persen. Akuisisi tersebut dilakukan setelah pemerintah Indonesia melarang platform media sosial menjalankan layanan e-commerce secara langsung, sehingga TikTok Shop sempat menghentikan operasinya sebelum bergabung dengan Tokopedia.
Meski GoTo masih memperoleh pendapatan dari kerja sama tersebut, kinerja Tokopedia di kawasan Asia Tenggara masih tertinggal. Berdasarkan laporan Momentum Works 2025, Tokopedia membukukan Gross Merchandise Value (GMV) sebesar US$9 miliar pada 2025, terendah di antara platform e-commerce utama di Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, Shopee mencatat GMV US$83,2 miliar, TikTok Shop US$45,6 miliar, dan Lazada US$18 miliar. Sementara itu, GMV TikTok Shop meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024.
(Sumber – CNBC)

