Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Harga Minyak Dunia Tembus 115,64 Dolar AS per Barel di Tengah Ketegangan Timur Tengah

CORTARA.id — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong lonjakan tajam harga minyak dunia. Gangguan distribusi energi global terjadi setelah penutupan Selat Hormuz di wilayah Iran yang menjadi jalur strategis perdagangan minyak internasional.

Hambatan pada jalur distribusi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap terbatasnya pasokan energi global. Dampaknya, harga minyak mentah melonjak signifikan dalam perdagangan terbaru.

Berdasarkan data pasar energi global dari Trading Economics yang bersumber dari instrumen keuangan over-the-counter (OTC) dan contract for difference (CFD), harga Crude Oil WTI tercatat mencapai 115,64 dolar AS per barel, meningkat 24,74 dolar atau sekitar 27,21 persen hanya dalam satu hari.

Selain WTI, kenaikan juga terjadi pada jenis minyak lainnya. Harga minyak mentah berada di kisaran 114,83 dolar AS per barel, naik sekitar 26,33 persen dalam sehari. Dalam sebulan terakhir, harga energi global bahkan telah melonjak lebih dari 81 persen.

Sementara itu, minyak jenis Brent juga menunjukkan tren serupa. Harganya menyentuh sekitar 115,86 dolar AS per barel, atau naik hampir 25 persen dalam perdagangan harian.

Situasi ini berkaitan dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada terganggunya jalur perdagangan minyak dunia. Kondisi tersebut membuat sejumlah negara mulai menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan energi.

Pemerintah Indonesia sendiri tengah menyiapkan skema pengadaan minyak tahunan guna memastikan ketersediaan cadangan energi tetap aman di tengah volatilitas harga global.

Lonjakan harga minyak dunia juga berpotensi memberi dampak lanjutan bagi perekonomian domestik, mulai dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan biaya logistik, hingga potensi perubahan harga energi di dalam negeri.

Hingga 9 Maret 2026, tren harga minyak global masih menunjukkan kecenderungan meningkat akibat risiko geopolitik dan gangguan pasokan. Para analis menilai volatilitas pasar energi masih akan berlangsung selama konflik di Timur Tengah belum mereda.

(Sumber – Republika)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *