JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) mencatat tingginya minat investor ritel domestik dalam melakukan pemesanan saham-saham Initial Public Offering (IPO). Head of Retail Business Division Mirae Asset, Prisa Ngadianto, mengamati bahwa nasabah mereka banyak yang ikut memesan saham IPO.
“Lumayan amat tinggi ya (antusias). Apalagi kalau saya ngelihat tahun lalu, setiap kali IPO lumayan lah di kita juga orderan dari nasabah juga lumayan banyak. Terutama nasabah ritel ya. Mungkin beberapa memang ada yang justru mencari yang IPO-IPO ini,” ujar Prisa dalam Media Luncheon Mirae Asset di Jakarta, Selasa (14/4).
Menurut Prisa, saham-saham IPO cenderung aman dikoleksi investor ritel selama fundamental dan bisnis perusahaan terkait bagus. “Jadi ya itu, selama fundamental bagus dan bisnisnya oke gitu, sebenarnya sih untuk nasabah ritel juga sebenarnya aman-aman aja gitu kan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa calon perusahaan tercatat dengan fundamental dan bisnis yang baik akan diburu oleh investor ritel. “Saya pikir kalau fundamentalnya bagus, nasabahnya juga nggak tinggalin kok. Investor juga pasti mau lah invest selama emang fundamentalnya bagus, bisnisnya jelas,” kata Prisa.
Dalam kesempatan yang sama, Mirae Asset mengungkapkan saat ini memiliki sekitar 420.000 investor atau nasabah. Perusahaan menargetkan penambahan 100.000 nasabah baru sepanjang 2026, sehingga diharapkan mencapai 500.000 nasabah pada akhir tahun.
“Kalau targetnya kita sih tahun ini ya mudah-mudahan kita bisa tumbuh setidaknya 100.000 nasabah baru lah untuk Mirae Asset. Jadi, dari 400.000 ya mungkin ke 500.000,” ujar Prisa.
Komposisi nasabah Mirae Asset didominasi generasi milenial. Prisa menjelaskan hal ini salah satunya disebabkan oleh kebijakan saldo minimum Rp10 juta yang diterapkan perusahaan. “Cuman kalau secara proposional mungkin milenias isinya lebih banyak di Mirae, karena kan kita butuh saldo minimum 10 juta. Milenial secara umur, secara aset mungkin lebih besar daripada yang genji,” ujarnya.
Tingginya minat terhadap saham IPO ini menjadi sinyal positif bagi pasar modal domestik, terutama di tengah upaya perusahaan sekuritas untuk terus menambah basis nasabah ritel yang didominasi generasi produktif.
(Sumber – ANTARA)

