JAKARTA – PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) mulai menggeser arah bisnisnya dengan masuk ke layanan terapi regeneratif, di tengah tekanan daya beli masyarakat dan keterbatasan pertumbuhan bisnis laboratorium. Langkah ini menandai upaya emiten layanan kesehatan tersebut mencari sumber pertumbuhan baru di luar layanan diagnostik yang selama ini menjadi andalan.
Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan, pengembangan layanan dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya terkait penyakit degeneratif yang kian meningkat.
“Prodia terus berkomitmen menghadirkan inovasi layanan kesehatan yang berfokus pada kebutuhan masyarakat, termasuk pengembangan terapi pengobatan regeneratif berbasis sel punca,” ujarnya dalam keterangan resminya dikutip Senin (20/4/2026).
Masuknya Prodia ke segmen ini diperkuat melalui akuisisi 30 persen saham PT Prodia StemCell Indonesia (ProSTEM) senilai Rp33 miliar pada 2025, sebagai pijakan untuk mengembangkan terapi berbasis bioteknologi.
Namun, berbeda dengan ekspansi layanan laboratorium yang relatif masif, pengembangan terapi regeneratif dilakukan lebih hati-hati. Prodia mengakui pasar layanan ini belum luas dan masih sangat bergantung pada daya serap masyarakat.
“Setiap kali membuka yang baru, harus ada serapan market. Kami tidak bisa langsung buka,” kata Dewi.
Di sisi lain, struktur biaya juga menjadi tantangan. Dewi menegaskan investasi terbesar justru pada tenaga medis, bukan fasilitas.
“Yang paling mahal investasinya adalah dokter. Keahliannya yang mahal,” ujarnya.
Kondisi ini membuat layanan seperti terapi sel punca cenderung berada di segmen premium, sehingga belum sepenuhnya terjangkau oleh masyarakat luas. Padahal, kebutuhan terhadap layanan kesehatan preventif dan regeneratif terus meningkat, seiring bertambahnya populasi usia lanjut dan perubahan pola penyakit.
Prodia sendiri baru memulai layanan ini di Prodia Senior Health Centre, dengan menyasar penyakit degeneratif seperti osteoartritis dan osteoporosis.
Ke depan, perseroan berencana memperluas layanan serupa ke kota-kota besar lainnya, dengan tetap mempertimbangkan serapan pasar dan ketersediaan tenaga medis.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari pengembangan bisnis Prodia di sektor terapi regeneratif dan advanced therapy medicinal products (ATMP) di Indonesia.
(Sumber – Republika)

