Cortara - Indonesia Online News Logo Small

IHSG Ambruk 2% Lebih, Tekanan Geopolitik dan Rupiah Jadi Pemicu

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok lebih dari 2 persen pada penutupan sesi pertama perdagangan Kamis (30/4/2026), menyentuh level 6.926,55 atau turun 175 poin (-2,42%). Level ini menjadi titik terendah IHSG sepanjang tahun 2026, dengan koreksi sejak awal tahun yang telah mencapai 20 persen.

Sebanyak 618 saham tercatat melemah, sementara hanya 95 saham yang menguat dan 98 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp11,28 triliun dengan volume 23,47 miliar saham.

Emiten tambang batu bara Grup Sinar Mas, Dian Swastatika Sentosa (DSSA), menjadi pemberat utama IHSG dengan pelemahan 13,22 indeks poin. Disusul BBRI dan BBCA masing-masing melemah 12,54 dan 11,71 indeks poin. Emiten lain seperti BREN, MEGA, TPIA, BRPT, MDKA, AMMN, dan UNTR juga ikut membebani.

Analis Doo Financial Futures menyebutkan bahwa ketidakpastian geopolitik global masih menjadi sentimen utama yang menekan IHSG. Harga minyak yang kembali naik, ancaman militer terbaru Presiden Trump, serta sikap hawkish The Fed turut memperburuk kondisi.

“Secara umum memang global masih risk off dari ketidakpastian perdamaian di timteng, harga minyak yg kembali naik, merespon ancaman militer terbaru Trump dan FOMC yang hawkish semalam,” ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Ia menambahkan bahwa belum ada sentimen positif dari dalam negeri yang mampu mengangkat pasar. Pelemahan rupiah ke level 17.390 per dolar AS, kekhawatiran defisit anggaran, serta isu rebalancing MSCI masih membayangi.

“Belum ada sentimen yang bisa mengunkit, walau valuasi beberapa saham blue chip sudah cukup menarik, namun downside geopolitikal dan AI bubble masih mengancam,” tambahnya.

Analis MNC Sekuritas Herditya sependapat bahwa penguatan IHSG akan terbatas dan masih ada potensi pelemahan lanjutan. Secara teknikal, IHSG berpotensi menembus area 6.917 dan bergerak menuju 6.727 hingga 6.800.

“Dari sisi sentimen, nilai tukar Rupiah yang masih melemah terhadap USD di 17.390 masih menjadi sentimen pasar modal,” sebutnya.

Pelemahan juga terjadi di bursa regional Asia, sementara emiten perbankan dan energi terus menjadi beban utama pergerakan IHSG.

(Sumber – CNBC)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *