JAKARTA – PT Amman Mineral Nusa Tenggara, anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), resmi bergabung dengan International Copper Association (ICA). Perusahaan tambang asal Indonesia ini menjadi anggota pertama dari kawasan Asia Tenggara dalam organisasi tembaga global tersebut.
Keanggotaan ini menempatkan Indonesia dalam forum internasional yang membahas arah pengembangan industri tembaga dan keberlanjutan sektor pertambangan. ICA merupakan organisasi yang berfokus mendorong pemanfaatan tembaga serta memperkuat permintaan komoditas tersebut sebagai material utama transisi energi rendah karbon. Organisasi ini beranggotakan 39 perusahaan dari enam benua yang mewakili lebih dari 50 persen produksi tembaga dunia.
Direktur AMMAN Naveen Chandralal mengatakan, langkah ini menjadi strategis setelah perusahaan menyelesaikan transformasi di sepanjang rantai nilai tembaga. Keanggotaan ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam diskusi global mengenai masa depan komoditas tersebut.
“Sebagai anggota ICA pertama dari Asia Tenggara, kami dapat membawa perspektif Indonesia ke dalam diskusi global mengenai masa depan tembaga. Keanggotaan ini menjadi platform untuk berbagi praktik terbaik, terlibat dalam prioritas keberlanjutan, dan berkolaborasi dengan anggota ICA lainnya untuk memenuhi permintaan tembaga dunia,” kata Naveen dalam siaran pers, Rabu (6/5/2026).
Ketua ICA Steven Rowland dan CEO ICA Juan Ignacio Diaz menyambut bergabungnya AMMAN sebagai penguatan kolaborasi global industri tembaga. Mereka menilai fokus perusahaan pada pengembangan teknologi pertambangan mencerminkan komitmen memperkuat peran tembaga dalam ekonomi global yang terus berkembang.
Bergabungnya AMMAN beriringan dengan transformasi operasional perusahaan menjadi entitas tambang terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk beroperasinya fasilitas peleburan dan pemurnian logam mulia baru. Selama sembilan tahun terakhir, AMMAN juga memanfaatkan inovasi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional serta menerapkan praktik tata kelola, keselamatan kerja, keberlanjutan, dan keragaman sesuai standar global.
Langkah ini memperlihatkan semakin meningkatnya posisi Indonesia dalam ekosistem mineral kritis yang dibutuhkan untuk elektrifikasi dan transisi energi global. Dengan keanggotaan ini, Indonesia tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga turut serta dalam menentukan arah kebijakan industri tembaga dunia.
(Sumber – Republika)

