Cortara - Indonesia Online News Logo Small

WHO Laporkan 900 Kasus Suspek Ebola di RD Kongo, 220 Korban Jiwa

CORTARA.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo telah menyebabkan 220 kematian suspek, dengan total lebih dari 900 kasus suspek teridentifikasi. Para pejabat kesehatan disebut kesulitan mengimbangi laju penyebaran epidemi yang sangat cepat.

Meskipun 101 kasus telah terkonfirmasi dan 10 kematian terkonfirmasi akibat Ebola, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan bahwa skala sebenarnya jauh lebih besar.

“Kini terdapat lebih dari 900 kasus suspek dan 220 kematian suspek,” kata Tedros dalam Rapat Virtual Tingkat Menteri tentang Wabah Ebola Bundibugyo pada Senin (25/5/2026).

Tedros menyoroti tantangan utama: keterlambatan dalam mendeteksi wabah membuat tim kesehatan kini harus mengejar ketertinggalan dari laju epidemi yang menyebar sangat cepat.

“Kami sedang menyegerakan peningkatan operasi, tetapi saat ini, penyebaran epidemi lebih cepat daripada upaya kami,” katanya.

Wabah yang dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 17 Mei 2026 ini juga telah menyebar ke Uganda. Negara tetangga tersebut mencatat lima kasus terkonfirmasi dan satu kematian terkait Ebola .

Gelar virus yang terlibat adalah Bundibugyo, galur Ebola langka yang hingga saat ini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui. Wabah galur ini sebelumnya hanya pernah terjadi dua kali, yakni di Uganda pada 2007 dan di RD Kongo pada 2012.

Memperparah krisis ini, provinsi-provinsi terdampak seperti Ituri dan Kivu Utara sedang mengalami kerawanan keamanan yang intens serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas luar. Dalam beberapa bulan terakhir, pertikaian yang kian intensif telah memaksa lebih dari 100.000 orang mengungsi .

Tedros mengonfirmasi akan segera melakukan perjalanan ke RD Kongo bersama direktur kedaruratan WHO, menegaskan komitmen lembaga tersebut untuk menghentikan wabah.

“Situasi akan memburuk sebelum membaik. Namun, kami mengenal virus ini, dan kami tahu cara menghentikannya,” ujar Tedros.

WHO telah menaikkan evaluasi risiko nasional menjadi “sangat tinggi”, sementara risiko regional tetap di level “tinggi”, dan risiko global “rendah”. Negara-negara tetangga RD Kongo didesak untuk segera mengambil tindakan pencegahan.
Upaya penanganan kini difokuskan pada pelacakan kontak, pendirian pusat perawatan, penguatan kapasitas laboratorium, manajemen kasus, pencegahan dan pengendalian infeksi, serta komunikasi risiko dan pelibatan masyarakat.

(Sumber – ANTARA)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *