Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Rupiah Kian Terperosok, Pengamat Sebut Bisa Sentuh Rp18.000 per AS Dolar di Akhir Bulan Mei

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan dan diperkirakan mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari memanasnya konflik geopolitik hingga kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal dalam negeri.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir terjadi cukup tajam.

“Hari ini cukup luar biasa pelemahan mata uang rupiah. Ada kemungkinan pembukaan pasar besok pada Jumat kemungkinan besar rupiah akan mendekati level Rp18.000 per dolar AS,” kata Ibrahim kepada wartawan, Kamis (28/5/2026).

Menurut Ibrahim, tekanan terbesar datang dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Ia menyoroti serangan Amerika Serikat terhadap instalasi di Iran Selatan yang berpotensi memicu balasan dari Teheran dan memperbesar risiko konflik regional.

“Ini kemungkinan besar akan membuat ketegangan di Selat Hormuz yang akan memicu harga minyak naik,” ujarnya.

Kenaikan tensi geopolitik tersebut, lanjut Ibrahim, ikut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak WTI disebut telah menyentuh kisaran US$96 per barel, yang kemudian meningkatkan biaya logistik global dan memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara.

Selain konflik Iran-AS, perang Rusia-Ukraina juga dinilai memperburuk sentimen pasar. Kondisi itu membuat investor global cenderung mencari aset aman dan memperkuat posisi dolar AS.

Dari sisi eksternal, rupiah juga tertekan oleh ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve. Ibrahim menyebut mayoritas ekonom memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun, bahkan membuka peluang kenaikan tambahan.

“Ada indikasi bahwa 52,3 persen para ekonom mengatakan Bank Sentral kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga sampai akhir tahun ini, bahkan bisa menaikkan suku bunga satu kali. Indikasi ini yang membuat dolar kembali terjadi gap up,” jelasnya.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, hingga perpindahan dana masyarakat ke aset valuta asing.

Ia juga menyinggung sejumlah program strategis pemerintah yang dinilai memunculkan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal nasional.

“Dibarengi juga dengan manajemen yang bobrok di pemerintahan tentang masalah MBG (Makan Bergizi Gratis), kemudian Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang membuat negara mengalami kerugian puluhan triliun,” tuturnya.

Menurut Ibrahim, kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut membuat arus modal asing keluar cukup deras, terutama selama periode libur panjang. Di sisi lain, Bank Indonesia disebut terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah, meski tekanan pasar masih sangat kuat.

“Tapi kita harus tahu bahwa kekuatan eksternal dan internal ini cukup besar ya, wajar kalau seandainya rupiah mengalami pelemahan,” ujar dia.

Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis (28/5/2026) berpotensi melemah hingga sekitar 100 poin dan ditutup di kisaran Rp17.900 per dolar AS, sebelum berpeluang menembus level Rp18.000 pada perdagangan berikutnya.

(Sumber – Republika)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *