SEOUL – Starbucks Korea Selatan menuai kecaman publik setelah kampanye pemasaran bertajuk “Tank Day” dianggap menyinggung tragedi penumpasan demonstrasi pro-demokrasi di Gwangju pada 1980. Kontroversi tersebut dilaporkan berdampak langsung terhadap penjualan perusahaan yang disebut mengalami penurunan signifikan.
Kampanye itu mempromosikan produk tumbler untuk memperingati tragedi Pemberontakan Gwangju 18 Mei, peristiwa berdarah ketika pemerintah militer Korea Selatan mengerahkan tentara dan tank guna membubarkan aksi demonstrasi warga sipil.
Dalam tragedi tersebut, ratusan orang dilaporkan tewas maupun hilang akibat tindakan represif rezim militer pimpinan Chun Doo Hwan. Hingga kini, sejumlah detail penting, termasuk pihak yang memberi perintah penembakan terhadap demonstran, masih menjadi perdebatan di Korea Selatan.
Ketua Shinsegae Group, Chung Yong Jin, akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada publik atas kontroversi tersebut. Dalam konferensi pers yang dikutip dari The Independent pada Jumat (29/5/2026), ia meminta masyarakat tidak melampiaskan kemarahan kepada para pegawai Starbucks Korea.
“Saya memandang sangat serius bahwa pemasaran Starbucks Korea yang tidak pantas telah melukai dan membuat marah banyak orang,” kata Chung. “Saya akan bertanggung jawab penuh atas insiden ini.”
Pihak perusahaan mengungkapkan kampanye tersebut disusun oleh tim e-commerce Starbucks Korea dan telah memperoleh persetujuan pimpinan tim hingga jajaran eksekutif. Namun investigasi internal sejauh ini belum menyimpulkan apakah terdapat unsur kesengajaan dalam penggunaan konsep kampanye tersebut.
Starbucks Korea mengakui insiden itu menunjukkan adanya kelemahan serius dalam sistem pengawasan dan manajemen risiko perusahaan, terutama dalam proses peninjauan materi promosi.
Menurut pejabat Shinsegae Group, dampak kontroversi tersebut langsung terasa terhadap performa bisnis perusahaan.
“Meskipun penjualan bukan perhatian utama kami saat ini, kami melihat penurunan yang sangat signifikan,” ujarnya.
Perusahaan menjelaskan tim e-commerce terlalu fokus mengejar target penjualan di tengah padatnya program promosi mingguan, sehingga kampanye tersebut lolos tanpa peninjauan memadai, termasuk dari sisi sensitivitas sosial dan aspek hukum.
Kontroversi ini juga mendapat perhatian dari kantor pusat global Starbucks di Amerika Serikat. Starbucks Global disebut terus menerima pembaruan terkait investigasi internal dan langkah penanganan yang dilakukan di Korea Selatan.
(Sumber – Republika)

