Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Selat Hormuz Mulai Dibuka, Harga Minyak Dunia Anjlok ke Bawah US$80 per Barel

CORTARA.id – Harga minyak dunia merosot tajam sekitar 5% pada perdagangan Selasa setelah munculnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Penurunan ini membawa harga minyak ke level terendah dalam sekitar tiga bulan terakhir.

Minyak mentah Brent tercatat turun US$4,21 atau 5,1% menjadi US$78,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah lebih dalam, yakni US$4,70 atau 5,8%, ke level US$76,05 per barel.

Level tersebut menjadi penutupan terendah Brent sejak 2 Maret 2026 dan WTI sejak 4 Maret 2026. Sebagai perbandingan, sebelum pecahnya konflik AS-Iran pada 28 Februari 2026, harga Brent berada di US$72,48 per barel dan WTI di US$67,02 per barel.

Penurunan harga dipicu ekspektasi pasar bahwa jalur pelayaran energi global melalui Selat Hormuz akan kembali normal setelah kesepakatan gencatan senjata dicapai.

“Harga minyak mentah turun cepat karena pasar berasumsi Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, dikutip dari Reuters, Rabu (17/6/2026).

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum konflik terjadi. Pembukaan kembali jalur tersebut dinilai dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global dan meningkatkan stabilitas pasar.

Selain membuka akses pelayaran, kesepakatan sementara AS-Iran juga disebut memberi peluang bagi Iran untuk kembali mengekspor minyak ke pasar internasional. Presiden AS Donald Trump menyatakan perjanjian tersebut dirancang untuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Seorang pejabat AS menyebut Iran akan diizinkan kembali menjual minyak setelah kesepakatan resmi diberlakukan. Kesepakatan ini juga memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April 2026 selama 60 hari tambahan.

Meski demikian, sejumlah analis menilai implementasi kesepakatan masih menghadapi tantangan. Pemulihan aktivitas pelayaran dan ekspor energi diperkirakan memerlukan waktu beberapa pekan sebelum kembali normal sepenuhnya.

Di sisi lain, kelompok Hizbullah di Lebanon menyatakan Iran kemungkinan enggan menandatangani kesepakatan nuklir final apabila Israel belum menarik pasukannya dari Lebanon. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih berpotensi memengaruhi pasar energi global ke depan.

(Sumber – Detik)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *