JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan akhir pekan di zona hijau. Mata uang Garuda ditutup terapresiasi 0,61 persen ke posisi Rp17.865 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026), meskipun aksi demonstrasi mahasiswa berlangsung di Jakarta.
Berdasarkan data Refinitiv, penguatan rupiah sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi hari, di mana rupiah dibuka menguat 0,42 persen ke level Rp17.900 per dolar AS. Meski sempat melemah ke Rp17.965 per dolar AS di tengah perdagangan, rupiah akhirnya berhasil kembali menguat hingga penutupan.
Posisi ini membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan mulai mendekati area Rp17.800 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di level 99,875 pada pukul 15.00 WIB, setelah pada perdagangan sebelumnya melemah 0,09 persen.
Penguatan rupiah terjadi seiring dengan pelemahan dolar AS di pasar global. Koreksi greenback membuka ruang penguatan bagi sejumlah mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer baru ke Iran pada menit-menit terakhir. Trump menyebut negosiasi dengan Teheran mulai mengarah pada kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Dengan penguatan ini, rupiah menunjukkan ketahanannya di tengah tekanan eksternal dan situasi domestik.
(Sumber – CNBC)

