JAKARTA — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah akan meningkatkan kapasitas cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional menjadi setara 90 hari konsumsi. Saat ini, daya tahan stok energi Indonesia masih berada di kisaran kurang dari satu bulan.
“Faktanya, ketahanan energi kita, storage itu maksimal di angka 25-26 hari, nggak lebih dari itu,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3).
Pernyataan tersebut merespons perbandingan dengan Jepang yang memiliki cadangan hingga 254 hari. Menurut Bahlil, keterbatasan fasilitas penyimpanan menjadi kendala utama peningkatan impor maupun penambahan stok nasional.
“Sekarang, kalau kita impor sebanyak itu (Jepang), kita mau taruh (BBM) di mana? Itu permasalahan kita,” katanya.
Untuk itu, pemerintah tengah menyiapkan pembangunan fasilitas storage baru dengan target kapasitas hingga tiga bulan. Proyek tersebut direncanakan mulai berjalan pada 2026 dan berlokasi di Sumatra. Saat ini, studi kelayakan masih berlangsung.
Langkah ini dinilai krusial di tengah meningkatnya risiko geopolitik, khususnya jika terjadi gangguan di Selat Hormuz. Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Ardian Nengkoda mengingatkan sekitar 84 persen arus minyak menuju Asia melewati jalur tersebut. Jika distribusi terganggu, ekspor dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, UEA, Qatar hingga Iran dapat terhambat.
Dampaknya mulai tercermin pada harga minyak global. Mengutip Reuters, harga Brent naik 4,7 persen menjadi US$81,40 per barel—level tertinggi sejak Januari 2025. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,7 persen ke US$74,56 per barel, tertinggi sejak Juni tahun lalu.
Ardian menilai tambahan produksi 206 ribu barel per hari yang disepakati OPEC+ untuk April tidak akan signifikan bila distribusi terhambat. Jalur pipa alternatif di kawasan Teluk diperkirakan hanya mampu mengalihkan sekitar 3 juta barel per hari, jauh di bawah potensi kebutuhan 20 juta barel.
“Pasar lebih peduli pada mobilitas fisik minyak mentah ketimbang spare capacity. Artinya, selama kapal tak berlayar, supply efektif global menyusut drastis,” ujarnya.
Ia memperkirakan jika dalam tujuh hari lalu lintas tanker belum pulih, harga minyak berpotensi melonjak ke kisaran US$110–130 per barel. Dampaknya bisa meluas ke sektor transportasi, logistik, hingga harga pangan dan barang pokok, serta menekan stabilitas makroekonomi.
Dalam skenario penutupan hingga 30 hari, negara-negara importir utama di Asia—seperti China, India, Singapura, Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan—diperkirakan menghadapi tekanan pada neraca berjalan dan nilai tukar.
Pemerintah berharap peningkatan kapasitas cadangan energi menjadi salah satu langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global.
(Sumber – CNN)

