Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Lagu Sindiran Syekh Misyari ke Iran dan Sekutunya Picu Perdebatan, Ulama Al-Azhar Soroti Standar Ganda Hukum Musik

CORTARA.id – Qari ternama asal Kuwait, Syekh Misyari Rasyid Al-Afasy, meluncurkan lagu berjudul “Tabat Aydin Iran wal-li ma’a Iran” (Celaka Tangan-Tangan Iran dan Mereka yang Bersamanya) pada April 2026. Lagu yang bernuansa politik ini memicu perdebatan luas di media sosial dan kalangan ulama karena dianggap mencampuradukkan agama, seni, dan politik.

Publik terpecah antara yang mendukung sebagai ekspresi sikap politik sah dan yang menolak karena dinilai mencampuradukkan agama, seni, dan politik. Di Mesir, para tokoh Al-Azhar melontarkan kritik tajam, tidak hanya terhadap isi lagu tetapi juga terhadap standar ganda dalam menyikapi musik dan nyanyian.

Guru Besar Ilmu Hadis Universitas Al-Azhar Mesir, Syekh Mohamed Ebrahim Al-Ashmawey, mempertanyakan konsistensi pihak-pihak yang selama ini mengharamkan musik secara mutlak.

“Saya sangat heran, dan keheranan saya tak kunjung reda,” ujarnya.

“Ketika saya tidak mendengar satu pun suara dari mereka yang biasanya mengharamkan—bahkan hal-hal yang paling mendasar—yang mengecam penggunaan musik dalam lagu ini,” kata dia menambahkan.

Al-Ashmawey menyoroti bahwa lagu tersebut menggunakan iringan melodi yang oleh kelompok tertentu dianggap haram, tetapi tidak menuai kecaman serupa. Menurutnya, fenomena ini juga terjadi pada lagu-lagu pujian lain seperti “Allah Allah ‘ala Al-Azhar” dan “Mustafa Mustafa”.

“Jika mereka mendengar orang melantunkan pujian kepada Nabi, mereka justru menolak dengan keras, bahkan sampai pada ejekan dan perundungan, dengan dalih larangan musik dan nyanyian,” tegasnya.

“Dengan timbangan apa mereka menilai semua ini?” ujar Al-Ashmawey.

Guru besar Al-Azhar lainnya, Syekh Salamah Abd El-Qawy, mengecam lagu tersebut dengan sindiran sarkastik, “Waha Afasy, bagaimana Anda mengangkat syiar tauhid kemudian Anda mengulurkan tangan untuk musuh dan menormalisasi hubungan dengan mereka?”

Dia menegaskan bahwa tauhid adalah agama semua, bukan milik satu negara atau kelompok tertentu. Lagu yang liriknya ditulis Thamer Shabib dengan musik oleh Abdulsalam Muhammad ini mendapat dukungan dari sebagian pihak sebagai pesan politik, tetapi Al-Afasy juga menghadapi serangan luas yang membuatnya menutup kolom komentar di beberapa platform.

(Sumber – Republika)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *