CORTARA.id — Sejumlah negara anggota NATO mulai membuka komunikasi lebih intens dengan China guna mendorong penyelesaian konflik Iran, di tengah merenggangnya hubungan dengan Amerika Serikat. Pergeseran ini mencerminkan perubahan dinamika geopolitik, terutama terkait pendekatan terhadap konflik di Timur Tengah.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez secara terbuka meminta Beijing mengambil peran lebih besar dalam meredakan ketegangan, khususnya terkait Iran dan Selat Hormuz. Dalam kunjungannya ke China, ia menilai posisi Beijing strategis dalam upaya deeskalasi konflik.
“Saya merasa sangat sulit untuk menemukan pihak lain, selain China, yang dapat menyelesaikan situasi ini di Iran dan Selat Hormuz,” ujar Sánchez.
Sikap Spanyol tersebut muncul di tengah ketidaksepakatan dengan kebijakan militer Washington. Madrid bahkan menolak penggunaan wilayah udara dan pangkalan militernya untuk mendukung operasi AS, mencerminkan mulai longgarnya solidaritas transatlantik. Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga menyampaikan kekecewaannya terhadap respons NATO yang dinilai tidak solid.
Di sisi lain, Presiden China Xi Jinping menegaskan pentingnya pendekatan multilateralisme dalam menyelesaikan konflik global. Ia memperingatkan agar dunia tidak kembali pada “hukum rimba”, sekaligus memperkuat posisi China sebagai penyeimbang dalam peta kekuatan global.
Perkembangan ini menunjukkan tren lebih luas di Eropa, di mana sejumlah pemimpin mulai meningkatkan komunikasi dengan Beijing. Langkah tersebut didorong kekhawatiran terhadap pendekatan militer AS yang dianggap berpotensi memperburuk situasi.
Secara strategis, China dinilai memiliki kepentingan besar menjaga stabilitas kawasan, mengingat ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari Teluk Persia. Posisi ini memberi Beijing leverage dalam mendorong deeskalasi, termasuk kemungkinan mendorong Iran menuju kesepakatan gencatan senjata.
Konflik Iran sendiri terus meluas sejak serangan militer AS dan Israel, memicu korban jiwa serta gangguan pada jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Dalam situasi tersebut, China menyatakan kesiapan untuk memainkan “peran konstruktif” dalam menjaga stabilitas kawasan.
Upaya diplomatik masih terus berlangsung, meski negosiasi antara AS dan Iran sebelumnya mengalami kebuntuan, terutama terkait isu program nuklir. Kondisi ini sekaligus menandai pergeseran lanskap global, di mana China mulai tampil sebagai aktor penting di tengah melemahnya dominasi AS di antara sekutunya.
(Sumber – CNBC)

