JAKARTA – Polytron memastikan tetap melanjutkan ekspansi di pasar laptop meski industri teknologi global masih menghadapi krisis chip memori yang mendorong kenaikan harga komponen.
Head of Group Product Audio Video Polytron, Bambang Athung, mengatakan perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara performa perangkat dan harga jual agar tetap sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia.
“Insight-nya adalah kita cari produk yang fit dengan consumer kita. Baik secara performance maupun secara pembelian harganya. Sebisa mungkin kami memberikan opsi terbaik pada konsumer kita,” kata Bambang saat peluncuran laptop Polytron New Luxia di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Dalam produk terbarunya, Polytron memilih menggunakan chip kelas menengah rilisan 2023 yang dinilai lebih efisien daya dan masih relevan untuk kebutuhan pelajar maupun pekerja kantoran. Strategi itu dipilih agar performa laptop tetap kompetitif tanpa membuat harga jual melonjak terlalu tinggi.
Menurut Bambang, perusahaan sebenarnya dapat memakai chipset generasi lama yang lebih murah. Namun Polytron memilih tetap menggunakan komponen yang lebih modern demi menjaga pengalaman penggunaan bagi konsumen.
“Kita juga anggap ini sebagai salah satu opsi yang terbaik yang kita bisa kasih ke konsumen,” ujarnya.
Di tengah kenaikan harga komponen akibat krisis memori global, Polytron juga membuka kemungkinan adanya penyesuaian harga. Meski begitu, perusahaan menegaskan tetap akan menjaga harga produk agar tetap kompetitif di pasar.
“Kita mungkin harus jaga dengan price yang tetap ‘seksi’ tapi tetap menarik untuk konsumen. Kita tetap tidak mengurangi yang namanya kualitas,” kata Bambang.
Sementara itu, laporan International Data Corporation (IDC) pada akhir 2025 menyebut krisis semikonduktor global diperkirakan masih berlangsung hingga 2027. Kondisi tersebut dipicu tingginya permintaan chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) yang melampaui kapasitas pasokan dunia.
Akibat ketidakseimbangan rantai pasok tersebut, sektor personal computer dan smartphone menjadi dua industri yang paling terdampak, termasuk pasar laptop global.
(Sumber – ANTARA)

