Cortara - Indonesia Online News Logo Small

Rupiah Jeblok ke 17.600 per Dolar AS, Guncangan Geopolitik Belum Reda

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada Jumat (15/5/2026). Berdasarkan data Google Finance, rupiah sempat menyentuh posisi Rp17.612 per dolar AS pada pagi hari, sebelum bergerak di kisaran Rp17.579.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah ini dipicu oleh menguatnya indeks dolar AS di tengah ketegangan geopolitik global yang masih memanas.

“Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dolar Amerika pada perdagangan hari ini, bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dolar terus mengalami penguatan,” ungkap Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan gangguan arus perdagangan melalui Selat Hormuz, menjadi momok utama yang mempengaruhi ekonomi global.

“Harus diingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama adalah di Selat Hormuz,” ucap dia.

“Kita tahu saat ini 20 persen transportasi minyak itu terhenti total. Ini yang membuat harga minyak terus mengalami kenaikan, indeks dolar pun juga terus mengalami kenaikan,” tutur Ibrahim.

Sebelumnya, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, memproyeksikan rupiah masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah pasca long weekend. Menurutnya, rupiah berpotensi menguji kembali level psikologis Rp17.550.

“Menjelang pembukaan pasar pasca long weekend, pergerakan Rupiah diproyeksikan masih akan tertahan dalam fase konsolidasi yang cenderung melemah (bearish bias), dengan risiko pengujian kembali ke level psikologis 17.550,” ujar Sutopo kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Sutopo menambahkan bahwa penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang membebani rupiah, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi global serta transisi kepemimpinan di Federal Reserve yang memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat.

Ia juga menilai libur panjang yang membuat pasar domestik tidak aktif berpotensi memicu lonjakan volatilitas saat perdagangan dibuka kembali. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dapat sedikit tertahan oleh sikap pasar yang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan depan.

Sebelumnya pada Rabu (13/5/2026), rupiah sempat ditutup menguat ke level Rp17.476 per dolar AS. Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menilai penguatan tersebut dipicu aksi ambil untung (profit taking) terhadap dolar AS setelah sebelumnya mata uang Negeri Paman Sam menguat cukup tajam pasca rilis data inflasi AS yang melampaui ekspektasi pasar.

Dengan tekanan eksternal yang masih kuat, pergerakan pekan depan akan menjadi penentu apakah rupiah mampu membentuk landasan support yang kuat atau justru melanjutkan tren pelemahan jangka panjang.

(Sumber – Liputan6)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *